Twisting Fate

It was different before now, when they were children and then teenagers, they continued to grow up. In the past, they were only playmates when they grew up to become officials or just manual laborers. Changes from time to time occur, until there is a shift in mindset, environment, social level atmosphere and differences in destiny. Changes due to shifts in the inner and physical realms make people grow and develop. Humans can change from friends to strangers after the social strata of life change. Destiny changes people, time makes people forgetful. No human is eternal, the wheel of life is turning. In the past, people who fought for life, may now become successful people. The test of life and religious knowledge given by the teacher greatly affects human manners. The manners provided by parents can fade because of the twist of fate. Be someone who has a polite and strong personality. We can change knowledge and we can grow the material. But to remember? Always maintain friendship with all groups. Because sustenance comes from divine guidance through humans.

Lain dahulu lain sekarang, Saat usia anak lalu remaja terus dewasa. Dahulu hanya teman main saat dewasa menjadi seorang pejabat atau hanya buruh kasar. Perubahan dari waktu ke waktu terjadi, hingga tejadi pergeseran pola pikir, lingkungan, suasana tingkat sosial dan perbedaan takdir. Perubahan akibat pergeseran alam batin maupun fisik membuat orang menjadi tumbuh kembang. Manusia bisa berubah dari sahabat menjadi tidak kenal setelah strata sosial kehidupan berubah. Takdirnya merubah manusia, waktu membuat orang menjadi pelupa. Tidak ada manusia yang kekal, roda kehidupan berputar. Dahulu orang yang berjuang hidup, mungkin saat ini menjadi orang sukses. Ujian kehidupan dan ilmu agama yang diberikan guru sangat mempengaruhi adab manusia. Sopan santun yang dibekali orang tua bisa luntur karena perputaran nasib. Jadilah seorang yang memiliki jati diri yang santun serta kuat kepribadiannya. Kita boleh berubah keilmuan dan boleh tumbuh materinya. Tapi harus diingat? Selalu jaga silahturahmi dengan semua golongan. Karena Rezeki datang dari petunjuk Illahi melalui manusia.

Manhaj

According to the term syar'i, manhaj are the rules & provisions used for every scientific lesson through the process of tracing (sanad) Islamic sciences with the correct historical plot that continues to the Prophet Muhammad. Starting from the current generation of scholars, previous scholars, tabiut tabiin, tabiin, friends, until finally connected to the Prophet.
That way, the right manhaj will lead a Muslim to the right guidance about worship, muamalah, and morals. If someone learns religion not based on the right manhaj (sanad), then his religious practice will be wrong. Like the rules of Arabic, ushul 'aqidah, ushul fiqh, & ushul interpretation. Where with these sciences learning in Islam and its main points become regular & correct. And the true manhaj is a straight and bright way of life in religion according to the understanding of the companions of the Prophet sallallaahu 'alaihi wa sallam.

Menurut istilah syar’i, manhaj ialah kaidah-kaidah & ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran ilmiah melalui proses penelusuran (sanad) ilmu-ilmu Islam dengan alur riwayat yang benar yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad. Mulai dari ulama generasi sekarang, para ulama terdahulu, para tabiut tabiin, para tabiin, para sahabat, hingga akhirnya tersambung kepada Rasulullah.
Dengan begitu, manhaj yang tepat akan mengantarkan seorang Muslim kepada tuntunan yang benar tentang ibadah, muamalah, dan akhlak. Jika seseorang belajar agama tidak didasari dengan manhaj (sanad) yang tepat, maka praktik beragamanya pun akan keliru. Seperi kaidah-kaidah bahasa arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, & ushul tafsir. Dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur & benar. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus & terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

BLIND SPOT

What we cannot see with our own eyes is what is called a BLIND SPOT. We can only see the BLIND SPOT with the help of others. In life, we need a leader to guard our lives, as well as to remind us if our life priorities start to shift. We need other people to advise, remind, even reprimand if we start doing something wrong, which we never even realize. It is our humility to accept criticism, advice, and rebuke that actually saves us. We are not perfect humans. Let other people be our eyes in our Blind Spot area so we can see what our own eyes can't see.

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan BLIND SPOT atau TITIK BUTA. Kita hanya bisa melihat BLIND SPOT tersebut dengan bantuan orang lain. Dalam hidup, kita butuh pemimpin untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser. Kita butuh orang lain menasihati, mengingatkan, bahkan menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, yang bahkan kita tidak pernah menyadari. KERENDAHAN HATI kita untuk menerima kritikan, nasihat, dan teguran itulah yang justru menyelamatkan kita. Kita bukan manusia sempurna. Biarkan orang lain menjadi mata kita di area Blind Spot kita sehingga kita bisa melihat apa yang tidak bisa terlihat oleh pandangan diri sendiri.

most noble person

"Ya Messenger of Allah, who is the hardest human to try?" He replied; "The Prophets, then the pious, then the noblest and the noblest of people. A person will be tested according to the level of his religion, if his religion is strong then the test will be added, and if his religion is weak then the test will be lightened. Not that test rest on a servant until he walks the earth without sin."

"Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat cobaannya?" Beliau menjawab; "Para Nabi, lalu orang-orang saleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa."

Nasehat Rosul

Zaalatul ‘Aalimin. Dimana terjadi, ulama telah menyimpang dari keulamaannya bukan membimbing umat kepada hal yang benar, justru mengarahkan umatnya kepada yang menyelamatkan dirinya atau justru mengantarkan umatnya kepada kebinasaan.

Wahukmu Jairin, merupakan supremasi hukum yang tidak benar. Penegakan hukum yang tidak mencerminkan keadilan. Jika hal ini terjadi, maka akan hancurlah masyarakat dan bangsa dimanapun.