Nightmare

Mimpi
Causes of people having nightmares:
1. Stress.
2. Mental disorders.
3. Lack of sleep.
4. Effect of drugs.
5. Consumption of alcohol.
6. Past Dream Experience.
The therapist:
Image rehearsal therapy, Hypnosis, Progressive muscle relaxation, Lucid Dreaming Therapy

Penyebabkan orang mengalami mimpi buruk:
1. Stres.
2. Gangguan mental.
3. Kurang Tidur.
4. Pengaruh obat.
5. Konsumsi Alkohol.
6. Pengalaman Mimpi masa lalu.
Terapisnya :
Image rehearsal therapy, Hipnosis, Relaksasi otot secara progresif, Lucid Dreaming Therapy

Mythomania / Lying

The definition of lying is;

  1. Telling things that are not in accordance with the facts, whether intentional or not.
  2. Manipulation of information, behavior and self-image that is deliberately carried out with the aim of leading others to conclusions or beliefs that are not true.

Several factors cause someone to lie;
Avoid punishment.
Want to get a reward
Protect others from punishment.
To be admired by others
Get yourself out of awkward situations.
Avoid embarrassment.

However, there are different types of lying in which the lying behavior is compulsive, impulsive and out of control. In other words, this behavior has become a habit even in normal situations that actually can be passed without having to lie. Lying behavior like this is called pathological lying or mythomania.

Mythomania is a condition in which the sufferer has a habit of lying without a specific purpose continuously and for a long period of time. In other terms, mythomania is referred to as pathological lying or pseudologia fantastica. Diagnostic and Statistical Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) explains that mythomania is not classified as a mental disorder but is only a symptom or symptom of anti-social personality disorder.
Differences between Mythomania and Ordinary Lies

Regular liars have reasons to lie. Meanwhile, people with mythomania will still lie even though the lies they tell do not provide any benefit at all. Common lies are about achievements, feelings, social life, age, income, and so on. In contrast to sufferers of mythomania whose lies are fantasy in nature where the sufferer will combine their fantasies with facts. Sufferers of mythomania often tell other people’s experiences and make it seem as if the experience is their own. The sufferer of mythomania also knows that this action can damage his reputation and even endanger himself, but he still does it. For example, he always says that he has a terminal illness to get sympathy when in reality he is fine. When his lies are exposed, this can make him lose the trust of others.

Get to know Mythomania. Some of the characteristics of mythomania:

His lie seemed to have no particular advantage.
The stories told are usually dramatic, complex, and detailed.
They usually describe themselves as heroes or victims.
They seemed convinced and believed that the lie had really happened.

Definisi Kebohongan adalah;
1. Menceritakan hal yang tidak sesuai fakta baik disengaja maupun tidak.

2. Manipulasi informasi, perilaku, dan gambaran diri yang sengaja dilakukan dengan tujuan mengarahkan orang lain pada kesimpulan atau kepercayaan yang tidak benar.

Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang berbohong;
Menghindari hukuman.
Ingin mendapatkan reward
Melindungi orang lain dari hukuman.
Supaya dikagumi orang lain
Mengeluarkan diri dari situasi canggung.
Menghindari rasa malu.

Namun, terdapat jenis kebohongan yang berbeda di mana perilaku berbohong ini bersifat kompulsif, impulsif, dan tidak terkendali. Dengan kata lain, perilaku tersebut sudah menjadi suatu kebiasaan bahkan dalam situasi normal yang sebenarnya bisa dilalui tanpa harus berbohong. Perilaku berbohong yang seperti ini disebut bohong patologis atau mythomania.

Mythomania merupakan suatu kondisi di mana penderitanya memiliki kebiasaan berbohong tanpa tujuan tertentu secara terus menerus serta dalam jangka waktu yang lama. Dalam istilah lain, mythomania disebut sebagai bohong patologis atau pseudologia fantastica. Diagnostic and Statistical Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) menjelaskan bahwa mythomania tidak termasuk ke dalam gangguan mental melainkan hanya simptom atau gejala dari gangguan kepribadian anti-sosial.
Perbedaan Mythomania dengan Kebohongan Biasa

Pembohong biasa memiliki alasan untuk berbohong. Sedangkan penderita mythomania akan tetap berbohong meskipun kebohongan yang ia ceritakan tidak memberikan keuntungan sama sekali. Kebohongan biasa umumnya tentang pencapaian, perasaan, kehidupan sosial, usia, pendapatan, dan sebagainya. Berbeda dengan penderita mythomania yang kebohongannya bersifat fantasi dimana penderitanya akan menggabungkan khayalannya dengan fakta. Penderita mythomania sering menceritakan pengalaman orang lain dan menjadikannya seolah-olah pengalaman itu adalah miliknya. Penderita mythomania juga mengetahui bahwa tindakan tersebut dapat merusak reputasi bahkan membahayakan dirinya sendiri, tetapi ia tetap melakukannya. Misalnya, ia selalu mengatakan bahwa dirinya mengidap penyakit mematikan demi mendapatkan simpati padahal pada kenyataannya ia baik-baik saja. Ketika kebohongannya terungkap, hal ini dapat membuat ia kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Mengenali Mythomania. Beberapa karakteristik mythomania:

Kebohongannya tampak tidak memiliki keuntungan khusus.
Kisah yang diceritakan biasanya bersifat dramatis, rumit, dan detail.
Mereka biasanya menggambarkan diri sebagai pahlawan atau korban.
Mereka tampak yakin dan percaya bahwa kebohongannya benar-benar terjadi.

The Great War against Personal Passions

In the journey of life, everyone is not devoid of opponents that confront them. The intended opponent or enemy is something that becomes an obstacle and frustrates the goal. Enemies come from all directions, even from ourselves. Enemies that come from yourself are even more difficult to conquer.
The war against lust is stated to be heavier than the war against physical enemies. Physical war, the enemy is clear, both in terms of the number and strength of the weapons. Even enemy tactics and strategies, though not easy. It can still be learned and conquered. It is different, if the enemy is yourself. The enemy in question is difficult to identify and not easy to conquer.
Anyone without exception, educated at any level, comes from any social strata, any age, and any background, is very likely to be defeated by his own desires. Therefore, a person wins against enemies who come from outside, but cannot move when he has to fight enemies or passions that are within himself. That's why, everyone's worst enemy is the one who comes from himself.

Dalam perjalanan hidup tiap orang ternyata tidak sepi dari lawan yang menghadang. Lawan atau Musuh yang dimaksudkan adalah sesuatu yang jadi kendala dan menggagalkan untuk mencapai tujuan. Musuhnya datang dari berbagai arah, bahkan dari diri sendiri. Musuh yang datang dari diri sendiri ternyata justru lebih sulit ditaklukan.
Perang melawan hawa nafsu dinyatakan lebih berat dibanding perang melawan musuh secara fisik. Perang fisik, musuhnya jelas, baik menyangkut jumlah maupun kekuatan persenjataannya. Bahkan taktik dan stretagi musuh, sekalipun tidak mudah. Masih dapat dipelajari dan ditaklukan. Hal itu berbeda, bila musuh tersebut adalah diri sendiri. Musuh yang dimaksudkan justru sulit dikenali dan tidak mudah ditaklukkannya.
Siapa saja tanpa terkecuali, berpendidikan pada jenjang apa saja, berasal dari strata sosial manapun, umur berapa saja, dan berlatar belakang apapun, sangat berkemungkinan dikalahkan oleh hawa nafsunya sendiri. Oleh karena itu, seseorang menang melawan musuh yang datang dari luar, tetapi tidak dapat berkutik ketika harus melawan musuh atau hawa nafsu yang ada pada dirinya sendiri. Itu sebabnya, musuh terberat bagi setiap orang adalah yang datang dari dirinya sendiri.

Conflict Management

Conflict Management is a process of managing conflict by developing a number of strategies carried out by conflicting parties so as to obtain the desired resolution.

Manajemen Konflik adalah sebuah proses mengelola konflik dengan menyusun sejumlah strategi yang dilakukan oleh pihak-pihak berkonflik sehingga mendapatkan resolusi yang diinginkan.

Conflict in Process

Conflict is the existence of two conflicting groups either openly or latent (closed). Conflict is sometimes a very necessary thing in an organization. Of course conflict can stimulate change in organizations and can help organizations to continuously learn (learning), but not all conflicts will create positive change. The only conflict capable of stimulating change is what is commonly called functional conflict. Here a leader/manager/leader.

assume that staff/employees/subordinates are passive, lazy, have no ambition to progress, are afraid of taking responsibility, only start working after receiving a warning from their superiors, opinions like this should be reviewed by all superiors or leaders, because there is one opinion management experts, especially Human Resources management "There is not a single staff person who is stupid, but the stupid one is the HR manager himself", because if the human resources are placed according to their competence or expertise, then the true capabilities of that person. Indeed, staff or subordinates have various characteristics and competencies. Leaders must be observant in assessing subordinates or staff in the organization, those staff or subordinates in carrying out the work given by their superiors have characteristics as we often see in an organization, there are subordinates who have the ability but don't have the will to work, what's even worse there are subordinates who don't have the ability and don't even have the will to work, there are those who can't but don't have the will to work, but there are also those employees who are able and even have the will to work. All of that depends on the approach of the leaders or managers in managing the available human resources.



Konflik adalah adanya dua kelompok yang saling bertentangan baik secara terbuka maupun latent (tertutup). Konflik itu kadang-kadang merupakan suatu yang sangat perlu dalam suatu organisasi. Tentu saja konflik yang dapat merangsang perubahan dalam organisasi dan dapat menolong organisasi untuk secara terus menerus belajar (learning), namun tidak semua konflik akan menciptakan perubahan yang positif. Konflik yang mampu merangsang perubahan hanyalah konflik yang lazim disebut konflik fungsional. Disini seorang leader/manager/pemimpin.

Beranggapan bahwa staf/pegawai/bawahan itu adalah orang yang pasif, malas, tidak berambisi untuk maju, takut memikul tanggung jawab, baru bekerja setelah ada peringatan dari atasan, pendapat seperti ini sebaiknya ditinjau kembali oleh semua atasan atau pemimpin, karena ada satu pendapat para ahli managemen terutama managemen Sumber Daya Manusia”Tidak ada satu orang staf pun yang bodoh, tetapi yang bodoh itu adalah manager pengelola SDM nya itu sendiri”, karena jika sumber daya manusia tersebut ditempatkan sesuai dengan kompetensinya atau keahliannya, maka akan terlihatlah kemampuan yang sebenarnya dari orang tersebut. Memang staf atau bawahan memiliki bermacam-macam karakteristik dan kompetensi. Pemimpin harus jeli dalam menilai para bawahan atau staf dalam organisasi, staf atau bawahan itu dalam melaksanakan pekerjaan yang di berikan oleh atasannya memiliki karakteristik seperti yang sering kita lihat dalam suatu organisasi,  ada bawahan yang memiliki kemampuan tapi tidak memiliki kemauan untuk bekerja, yang parah lagi ada bawahan yang tidak memiliki kemampuan bahkan dibarengi tidak memiliki kemauan untuk bekerja, ada yang tidak mampu namun juga dibarengi tidak ada kemauan untuk bekerja, tetapi ada juga karyawan itu yang mampu bahkan dibarengi adanya kemauan untuk bekerja. Kesemua itu tergantung pendekatan para pimpinan atau manager dalam mengelola sumber daya manusia yang tersedia.