Good vs bad are two terms used in determining an action that is done by humans. All forms of human action are guided by his view of good and bad. The value of good and bad will be a source of reference in carrying out various actions in his life. Good and bad values are not only in the study of philosophy, but also become the focus of discussion of various religious sources, including the Koran and hadith. Specifically, observers are directed to know the potential in humans, in this case it is closely related to the potential for good and evil in humans as explained in the Koran and also hadith. In QS. al-Syams: 8 it is stated that there is a balance of the potential for good and evil in humans, but in the hadith narrated by Imam Bukhari No. 1385 it is stated that the potential for goodness is the most prominent in humans since they were born in a state of nature. Based on the differences, problems arise in this analysis. That is how the views of observers in interpreting verses and hadiths about the potential for good and evil in humans, and how to make the potential for good play a greater role than evil. This analysis aims to find out the opinions of commentators and to find reasons for each commentator in arguing about the potential for good and evil in humans. The research method used in this study is the maudhu'i (thematic) method. The analysis technique of this research is descriptive analysis technique. This type of research is a literature study (library research). The primary data source for this research is the book of Tafsir al-Mishbah, Tafsir al-Munir, Fath al-Bari. As for the sources of secondary data in this study are books, journals and other scientific works that are relevant to the discussion. The results of the study show that the potential for goodness that is most prominent in humans also indicates that in essence the positive potential of humans is stronger than the negative potential, it's just that the attraction of evil is stronger than the attraction of good, therefore humans are required to maintain the purity of the soul (nafs). . So that the potential for good is more prominent than bad, humans should guide this potential with several instructions that have been conveyed by Allah in the Qur'an, and also those that have been conveyed by the Prophet. in the hadith, namely by keeping the heart in order to stay in fitrah.
Baik vs buruk adalah dua istilah yang digunakan dalam menentukan suatu tindakan yang dilakukan oleh manusia. Semua bentuk tindakan manusia dipandu oleh pandangannya tentang baik dan buruk. Nilai baik dan buruk akan menjadi sumber acuan dalam melakukan berbagai tindakan dalam kehidupannya. Nilai baik dan buruk tidak hanya dalam kajian filsafat, tetapi juga menjadi fokus pembahasan berbagai sumber agama, termasuk Alquran dan hadis. Secara khusus pengamat diarahkan untuk mengetahui potensi pada manusia, dalam hal ini erat kaitannya dengan potensi kebaikan dan keburukan pada manusia sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan juga hadits. Dalam QS. al-Syams: 8 disebutkan bahwa terdapat keseimbangan potensi kebaikan dan keburukan pada manusia, namun dalam hadits riwayat Imam Bukhari No. 1385 disebutkan bahwa potensi kebaikan paling menonjol pada manusia karena mereka lahir dalam keadaan fitrah. Berdasarkan perbedaan tersebut, permasalahan muncul dalam analisis ini. Begitulah pandangan para pengamat dalam memaknai ayat dan hadits tentang potensi kebaikan dan keburukan pada manusia, dan bagaimana menjadikan potensi kebaikan lebih berperan dari keburukan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pendapat para mufassir dan mencari alasan masing-masing mufasir dalam berdebat tentang potensi kebaikan dan kejahatan pada manusia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maudhu'i (tematik). Teknik analisis penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Jenis penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research). Sumber data primer penelitian ini adalah kitab Tafsir al-Mishbah, Tafsir al-Munir, Fath al-Bari. Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku, jurnal dan karya ilmiah lainnya yang relevan dengan pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi kebaikan yang paling menonjol pada manusia juga menandakan bahwa pada hakekatnya potensi positif manusia lebih kuat dari pada potensi negatif, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebaikan, oleh karena itu manusia dituntut untuk menjaga kemurnian jiwa (nafs). . Agar potensi kebaikan lebih menonjol dari pada keburukan, manusia hendaknya mengarahkan potensi tersebut dengan beberapa petunjuk yang telah disampaikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, dan juga yang telah disampaikan oleh Nabi. dalam hadits yaitu dengan menjaga hati agar tetap fitrah.
Amendments
Amendments are official changes to certain official documents or notes, especially to improve them. These changes can be in the form of adding or deleting incorrect records that are no longer appropriate. This word is generally used to refer to changes in a country's legislation.
Amendemen atau Perubahan adalah perubahan resmi dokumen resmi atau catatan tertentu, terutama untuk memperbagusnya. Perubahan ini dapat berupa penambahan, atau juga penghapusan catatan yang salah, tidak sesuai lagi. Kata ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada perubahan pada perundang-undangan sebuah negara.
Flat Calm
If you want to know the meaning of loyalty, look at his attitude when you are facing a difficulty.
If he still cares and accompanies you, helps you to rise from a slump.
He never leaves you alone to face your problems, he is your best friend, that's the best partner.
Take care of him and don't let him go, because in front of him it's not necessarily someone like him, you get it..
_"Abominable women for abominable men. And abominable men for abominable women too. Good women for good men. And good men for women which is good too."_
(QS. An Nur: 26)
Jika ingin tahu arti sebuah kesetiaan, lihatlah sikapnya saat engkau sedang menghadapi sebuah kesulitan..
Bila dia masih tetap peduli dan mendampingimu, menolongmu untuk bangkit dari sebuah keterpurukan.
Dia tidak pernah meninggalkanmu sendirian menghadapi masalahmu, dialah teman terbaikmu, itulah sebaik-baiknya pasangan..
Jagalah dia dan jangan engkau lepaskan, karena didepan belum tentu seseorang seperti dia, engkau dapatkan..
_"Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.”_
(QS. An Nur: 26)
Coping Mechanism
Coping mechanism is a person’s way of dealing with or controlling stress.
Unhealthy coping mechanisms that can exacerbate stress: Excessive drinking, doing anything to excess, avoiding social activities, not exercising, thinking negatively about yourself
Coping mechanism adalah cara seseorang menghadapi atau mengendalikan stres.
coping mechanism tidak sehat yang bisa memperparah stres: Minum Alkohol Berlebihan, Melakukan Apapun Secara Berlebihan, Menghindari Aktivitas Sosial, tidak olah raga, Berpikir Negatif Terhadap Diri
Logic VS Feelings
Logic is the knowledge of the rules of thinking, logic, and reasonable ways of thinking.
While the feeling is the feel (taste) or the state of mind when facing (feeling) something.
Simply put, logic is something that makes sense and feelings are the heart's reaction to a situation.
Surely we ourselves know better how the situation relates logic to feelings.
Basically logic gives priority to concrete things, such as ways of thinking, analysis, observation, and something that reason might accept. Then, feelings basically put more emphasis on feelings, thoughts, and something that happens to the heart that is abstract in nature.
Even though the two are quite different in terms of understanding, that is precisely the relationship between the two. Humans live complementary and tolerant of each other, as well as logic and feelings.
Example; Sometimes feelings of hatred towards someone are very excessive. So that's where the role of logic comes in, where it has to be a reassurance that hate won't solve problems and won't make feelings calm.
On the other hand, there are times when logic gets tired, so it's hard to think clearly. So when logic is deadlocked, feelings will guide the mind and conscience.
The relationship between the two was born from differences that complement each other. Then, can we make sense of feelings? There are two possible definite answers, either 'Yes' or 'No'. Logic can indeed understand and provide the best way out when feelings feel something that is not logical.
Sometimes, not all things we can feel or can think of a way out by logic. In fact, when considered logically it actually makes things worse. Feelings will prioritize inner sympathy and surrender a situation to Allah SWT. That's why sometimes we can't always make sense of our feelings.
Logika adalah pengetahuan tentang aturan berpikir, logika, dan cara berpikir yang masuk akal.
Sedangkan feeling adalah perasaan (rasa) atau keadaan pikiran pada saat menghadapi (feeling) sesuatu.
Sederhananya, logika adalah sesuatu yang masuk akal dan perasaan adalah reaksi hati terhadap suatu situasi.
Tentunya kita sendiri lebih tahu bagaimana situasi menghubungkan logika dengan perasaan.
Pada dasarnya logika mengutamakan hal-hal yang konkrit, seperti cara berpikir, analisis, pengamatan, dan sesuatu yang dapat diterima akal. Kemudian, perasaan pada dasarnya lebih menekankan pada perasaan, pikiran, dan sesuatu yang terjadi pada hati yang sifatnya abstrak.
Padahal keduanya cukup berbeda dalam hal pemahaman, justru itulah hubungan keduanya. Manusia hidup saling melengkapi dan saling toleran, begitu juga dengan logika dan perasaan.
Contoh; Terkadang perasaan benci terhadap seseorang sangatlah berlebihan. Nah disitulah peran logika, dimana harus menjadi penegasan bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan membuat perasaan menjadi tenang.
Di sisi lain, ada kalanya logika menjadi lelah, sehingga sulit berpikir jernih. Maka ketika logika menemui jalan buntu, perasaan akan menuntun pikiran dan hati nurani.
Hubungan keduanya lahir dari perbedaan yang saling melengkapi. Lalu, bisakah kita memaknai perasaan? Ada dua kemungkinan jawaban yang pasti, baik 'Ya' atau 'Tidak'. Logika memang bisa memahami dan memberikan jalan keluar terbaik saat perasaan merasakan sesuatu yang tidak logis.
Terkadang, tidak semua hal bisa kita rasakan atau pikirkan jalan keluarnya dengan logika. Padahal, jika ditilik secara logika justru memperburuk keadaan. Perasaan akan mengutamakan simpati batin dan memasrahkan suatu keadaan kepada Allah SWT. Itu sebabnya terkadang kita tidak selalu bisa memahami perasaan kita.