Learn 2×0

Describe something you learned in high school.

Learn About: Religion suggests a good way of life in the world hereafter by setting intentions in the heart and brain, Learning to read and write to know knowledge, Mathematics learning to manage plus signs, reducing and multiplying the results we must share honestly and fairly, History so that we know the origin of man and the universe

Post-Truth

Disinformation in the post-truth era is a serious threat to the development of a healthy electoral democracy. The legitimacy of a truth is not based on verifiable facts, but on personal beliefs and affect or something that touches emotions and feelings.

As a result, lies and truth become difficult to identify. These disinformation practices based on lies and falsification then spread in more diverse forms thanks to the emergence of social media. Disinformation colored by hate speech in the media space has gradually resulted in sharper political polarization and threatened social cohesion.

In response to this, the Head of the National Intelligence Service (BIN) Budi Gunawan, in his book Democracy in the Post Truth Era, shows that social media has the ability to spread misinformation, generate wild conspiracy theories, speak negatively about certain parties without a clear basis. As well as causing polarization in society. Meanwhile, political practices in the post-truth era have had a negative impact on the eroding of healthy debate traditions in society, the occurrence of political stalemates, the uncertainty of a policy, and can even make people alienate themselves from political dynamics.



Disinformasi di era post-truth merupakan ancaman serius bagi terbangunnya demokrasi elektoral yang sehat. Legitimasi atas sebuah kebenaran tidak berdasarkan pada fakta yang dapat diverifikasi, tetapi pada keyakinan personal dan affect atau sesuatu yang menyentuh emosi dan rasa.

Akibatnya, kebohongan dan kebenaran menjadi sulit diidentifikasi. Praktik-praktik disinformasi berbasis kebohongan dan kepalsuan ini kemudian tersebar dengan bentuk yang lebih beragam berkat kemunculan media sosial. Disinformasi yang diwarnai ujaran-ujaran kebencian di ruang media lambat laun mengakibatkan polarisasi politik menjadi semakin tajam dan kohesi sosial menjadi terancam.

Menyikapi hal itu, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan, dalam buku Demokrasi di Era Post Truth, memperlihatkan bahwa media sosial memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan informasi yang salah, memunculkan teori-teori konspirasi liar, membicarakan pihak tertentu secara negatif tanpa dasar yang jelas, serta menyebabkan terjadinya polarisasi di masyarakat. Dalam pada itu, praktik-praktik politik di era post-truth membawa dampak negatif terkikisnya tradisi perdebatan yang sehat di masyarakat, terjadinya kebuntuan politik, ketidakpastian suatu kebijakan, bahkan dapat menjadikan masyarakat mengalienasi diri dari dinamika politik.

Material for reflection when becoming a Lecturer

Currently being a lecturer is not the ideal profession for smart people in Indonesia and this is a future catastrophe. Lecturers become the object of policies that keep changing and harming them because the point is the submission of lecturers.
The main task of lecturers today is to carry out government administrative activities. He is required to report on his activities every semester, accompanied by proof of documents, uploaded in an application provided by the government, and the applications are alternated.
Fulfillment of purely quantitative achievements will determine whether lecturer allowances are still paid or terminated.
Maybe Lecturers will be shown as bureaucratic people for Lecturers who are positioned as laborers. If you look closely, a university is an educational institution whose job is to produce knowledge, never the same as a political institution or corporate business, and must be free from the interests of power and money.

Making lecturers as one of the institutional workers. Policies like this really demean the dignity of lecturers. There are campuses that require the contents of the attendance list. Don't they understand that lecturers work unlike ordinary office workers, who can rest as soon as they get home? Lecturers work continuously and think 24 hours a day about lecture preparation, research, and the publications they are writing.

The university is a moral movement. Where Lecturers are also required to develop culture and science. Culture is not limited to art, but its essence is a thinking system, a knowledge system so that humans can survive in the natural environment, communicate with other humans, and until now have to deal with artificial intelligence technology which has a very massive impact on human life. Lecturers are required to contribute solutions to serious problems in society. When a lecturer speaks out criticizing various parties who are indicated to be damaging human values and the environment, he is not being involved in politics, but is carrying out his obligations as part of a moral movement.

Educational institutions are not yet on target (not yet focused on the direction expected). In general, these institutions include those with an autonomous status and remain a teaching university. Meanwhile, the assessment of higher education institutions is determined based on their ability to become a world class research university, achieving the world's top ranking. Chancellors simply carry out performance contracts with related departments, exert all means through the dean, then pressure lecturers to teach an increasing number of students, while producing international publications on a par with countries whose higher education is well taken care of.



Saat ini menjadi dosen bukanlah profesi idaman bagi orang pandai di Indonesia dan inilah malapetaka masa depan. Dosen menjadi obyek kebijakan yang terus berganti dan merugikannya karena intinya adalah penundukan dosen.
Tugas utama dosen hari ini adalah melakukan kegiatan administratif pemerintahan. Ia wajib melaporkan kegiatannya setiap semester, dilampiri bukti dokumen, diunggah dalam aplikasi yang disediakan pemerintah, dan aplikasinya pun berganti-ganti.
Pemenuhan capaian kuantitatif semata itu akan menentukan apakah tunjangan dosen tetap dibayar atau dihentikan

Mungkin Dosen akan ditampilkan sebagai manusia birokrasi untuk Dosen yang diposisikan sebagai buruh. Bola dicermati, universitas adalah lembaga pendidikan tugasnya memproduksi ilmu pengetahuan, tidak pernah sama dengan lembaga politik atau bisnis korporasi, dan harus terbebas dari kepentingan kekuasaan dan uang.

Menjadikan dosen sebagai salah satu buruh institusi. Kebijakan seperti ini sungguh merendahkan martabat dosen. Ada kampus yang mewajibkan isi daftar hadir. Apakah mereka tidak paham bahwa dosen bekerja tidak seperti pekerja kantor biasa, yang bisa beristirahat begitu sampai di rumah? Para dosen bekerja terus dan berpikir sepanjang 24 jam tentang persiapan kuliah, penelitian, dan publikasi yang sedang ditulisnya.

Universitas adalah gerakan moral. Dimana Dosen juga wajib mengembangkan kebudayaan dan keilmuan. Kebudayaan tidak sebatas seni, tetapi esensinya adalah sistem berpikir, sistem berpengetahuan agar manusia bisa bertahan menghadapi lingkungan alam, berhubungan komunikasi dengan manusia lain, dan hingga kini berhadapan dengan teknologi kecerdasan buatan yang sangat masif dampaknya bagi kehidupan manusia. Dosen wajib turut beri solusi pada masalah berat di masyarakat. Ketika dosen bersuara mengkritik berbagai pihak yang diindikasi merusak nilai kemanusiaan, dan lingkungan hidup, ia tidak sedang berpolitik, tetapi melakukan kewajibannya sebagai bagian dari gerakan moral.

Lembaga pendidikan belum tepat sasaran ( belum fokus arah sesuai harapan). Umumnya lembaga ini termasuk yang berstatus otonom, tetap menjadi teaching university. Sementara penilaiannya terhadap lembaga pebdidikan tinggi ditetapkan berdasarkan kemampuan menjadikan diri sebagai world class research university, meraih peringkat papan atas dunia. Para rektor sekadar menjalankan kontrak kinerja dengan Departemen terkait, mengerahkan segala cara melalui dekan, selanjutnya menekan dosen untuk mengajar mahasiswa yang semakin banyak, sambil menghasilkan publikasi internasional setara negara-negara yang pendidikan tingginya diurus baik.


Describe

Describe one positive change you have made in your life.

Improving worship to Allah at all times. Honest and trustworthy.
Lifestyle improvement.
Doing good deeds to neighbors, by keeping bad speech so as not to hurt neighbors.

Neocolonialism

Neocolonialism is the practice of Capitalism, Globalization, and imperialism's cultural forces to control a country (usually a former European colony in Africa or Asia) as a substitute for direct political or military control.
Neo-Colonialism-Imperalism or Nekolim is the development of western domination of the political and economic system over other countries (Imperialism), so the two words are strung together to become Neocolonialism-Imperialism (Nekolim)
Examples of Neocolonialism include:
1. The division of two countries with the conditions of developing countries and developed countries.
2. Many developed countries exploit the natural resources of developing countries.
3. Meanwhile developing countries only get a little profit
Colonialism is divided into several types, including the following.
1. Resident Colony. Population colonies are the control of an area by getting rid of native people to be replaced by migrants.
2. Colonies of Exploitation.
3. Deportation Colony.

Factors driving the birth of colonialism and imperialism are power factors, economic factors, ideological/religious factors, and military factors. Colonialism is generally carried out by countries that have strong military forces.
characteristics of colonialism, namely; Existence of control over natural resources and labor in the occupied country, such as mining, plantations, and agriculture. There was a separation of the occupied territories into several administrative areas or provinces, which were managed by colonial officials.
The positive impacts of the Dutch colonial period in Indonesia apart from having negative impacts also had positive impacts including: the Indonesian people knew about the liberalist and capitalist economic system, the introduction of the banking system in Indonesia, the emergence of modern means of transportation.


Neokolonialisme adalah praktik Kapitalisme, Globalisasi, dan pasukan kultural imperialisme untuk mengontrol sebuah negara (biasanya bekas jajahan Eropa di Afrika atau Asia) sebagai pengganti dari kontrol politik atau militer secara langsung.
Neo Kolonialisme-Imprealisme atau Nekolim adalah pembangunan dominasi barat terhadap sistem ekonomi politik dan lainnya atas negara lain (Imperialisme), maka dua kata itu dirangkai menjadi Neokolonialisme-Imperialisme (Nekolim)
Contoh Neokolonialisme antara lain :
1. Terbaginya dua negara dengan kondisi adanya negara berkembang dan negara maju.
2. Banyak negara maju yang mengekploitasi sumber daya alam negara berkembang.
3. Sementara itu negara berkembang hanya mendapatkan sedikit keutungan
Kolonialisme terbagi menjadi beberapa macam, di antaranya sebagai berikut.
1. Koloni Penduduk. Koloni penduduk adalah penguasaan suatu wilayah dengan cara menyingkirkan penduduk asli untuk digantikan oleh para pendatang.
2. Koloni Eksploitasi.
3. Koloni Deportasi.

faktor pendorong lahirnya kolonialisme dan imperalisme ialah faktor kekuasaan, faktor ekonomi, faktor ideologi/agama, dan faktor militer. Kolonialisme umumnya dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kekuatan militer yang kuat.
ciri-cir kolonialisme, yakni; Adanya penguasaan atas sumber daya alam dan tenaga kerja di negara yang diduduki, seperti pertambangan, perkebunan, dan pertanian. Adanya pemisahan wilayah yang diduduki menjadi beberapa wilayah administratif atau provinsi, yang dikelola oleh pejabat-pejabat kolonia.
Dampak positiv masa penjajahan Belanda di Indonesia selain menimbulkan dampak negatif juga menimbulkan dampak positif diantaranya :masyarakat Indonesia mengetahui sistem ekonomi liberalis dan kapitalis, diperkenalkannya sistem perbankan di Indonesia, munculnya alat transportasi modern.