Each person will be asked, where are your feet standing right now. If you stand in a big bad group, then prepare an answer when asked at barzakh. But, if you stand confidently in a small group for good. Prepare your nails to give evidence, not your locked lips. Both were asked by Angels and not others. When you see beauty or vice versa. The answer is in yourself. At that moment you can clearly see the comparison between Mortal life and life after your death.
Masing-masing orang akan ditanya, ada dimana kakimu berdiri saat ini. Bila engkau berdiri di kelompok besar yang buruk, maka persiapkan jawaban saat di tanya di barzakh. Tapi, bila berdiri yakin di kelompok kecil untuk kebaikan. Persiapkan kukumu untuk memberi bukti bukan lisanmu yang terkunci. Keduanya ditanya oleh Malaikat bukan yang lain. Saat itu melihat keindahan atau sebaliknya. Jawabannya ada pada dirimu sendiri. Saat itu dapat terlihat jelas perbanding antara kehidupan Fana dengan kehidupan setelah kematianmu.
What’s the biggest risk you’d like to take — but haven’t been able to?
The biggest risk you want to take, but haven't been able to take, is: when your child gets sick as a baby. First, you must have the courage to take a stand to save.
Assist members in defending their rights as chairman. Must have the courage to make decisions with careful calculations
Currency depreciation is the process of reducing the value of one country's currency relative to another country's currency. This process can have a significant impact on a country's economy. This can make imported goods and services more expensive, which can increase inflation. If devaluation expands net exports and aggregate income, revaluation will reduce net exports and reduce aggregate income. Meanwhile, a decrease in the value of a currency in a country with an expanding exchange rate system is called depreciation.
Factors Affecting Depreciation Current Activa :
Acquisition cost. Estimated Economic Life Assets (Estimate Economical Life Time of Assets)
Residual Value.
Estimated Useful Life.
Usage Pattern.
Record Profit Earnings.
Knowing the Initial Price of the Asset.
Knowing the Total Calculation Value.
Depresiasi mata uang adalah proses penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Proses ini dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian suatu negara. Hal ini dapat membuat barang dan jasa impor lebih mahal, yang dapat meningkatkan inflasi.
Jika devaluasi mengekspansi net ekspor dan pendapatan agregat, namun revaluasi akan mengurangi net ekspor dan menurunkan pendapatan agregat. Sementara itu, penurunan nilai mata uang di negara dengan sistem nilai tukar mengembang disebut dengan depresiasi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Depresiasi Aktiva lancar :
Harga Perolehan. Perkiraan Umur Ekonomis Aktiva (Estimate Economical Life Time of Asset)
Nilai Residu.
Estimasi Masa Manfaat.
Pola Pemakaian.
Mendata Perolehan Keuntungan.
Mengetahui Harga Awal Aset.
Mengetahui Nilai Total Kalkulasi.
What are you most proud of in your life?
what are you most proud of in your life, namely: when you completed your studies at the highest level. And, realizing that we are weak creatures before God.
Have a happy family.
Good relations and communication with people in the world.
Tafakur is contemplation carried out to obtain a core or result in achieving clarity of mind and heart so that it can make life more valuable and used for goodness and closeness with God. Tafakur comes from Arabic, Tafakkara, which means to think.
The virtue of tafakur is that it makes a person know God better. People who like to meditate will know how great God's power is, so that they will feel love and fear of God. Tafakur also makes it easy for someone to know and recognize what is right and what is false. Sufi scholars call tafakur the lamp of the heart, because with tafakur a person knows God and can recognize guidance from Him. This is what then encourages someone to become more devoted to Him.
Tafakur adalah perenungan yang dilakukan untuk mendapatkan suatu inti atau hasil dalam mencapai kebeningan pikiran dan hati sehingga dapat menjadikan hidup ini lebih berharga dan dimanfaatkan untuk kebaikan dan kedekatan bersama Tuhan. Tafakur berasal dari bahasa arab, Tafakkara, yang berarti memikirkan
Tafakur ( berpikir ) secara terminologis adalah nama untuk proses kegiatan kemampuan akal pikiran di dalam diri manusia, baik yang berupa kegiatan hati, jiwa, atau akal melalui nalar dan renungan. Tujuannya untuk mencapai makna-makna yang tersembunyi dari suatu masalah, atau ketetapan hukum, atau asal usul korelasi antar permasalahan. Tafakur adalah proses mengamati, menganalisis, dan merenungkan antara satu unsur dengan unsur yang lain. Dari proses tersebut, lahirlah pendapat atau kesimpulan yang mampu mendekatkan diri kita pada Allah SWT. Tafakur adalah proses mengamati dan merenungkan semua ciptaan Allah SWT yang ada di muka bumi, sehingga mampu mengokohkan keimanan. Ujung dari orang yang senantiasa bertafakur adalah ia akan tercengang dan terkagum-kagum akan kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga.
Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam. Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullooh, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.”, (Muslim no. 899). Begitulah Rasulullah SAW. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah SAW. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”
Fenomena penciptaan alam semesta beserta segala isinya adalah bukti nyata Kemahakuasaan Sang Khalik. Orang beriman sebagai makhluk yang berpikir disuruh untuk merenungi, betapa hebat kekuasaan Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu. Ahli agama dan filsafat tempo dulu sudah bertafakur tentang hakikat alam semesta.* Banyak orang yang akhirnya menyadari keberadaan Tuhan dengan merenungi ciptaan-Nya. Seperti Nabi Ibrahim AS yang juga menemukan Rabbnya melalui tafakur.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS Ali Imran [3]:190-191). Hanya Allah yang
Bertafakur dan merenung adalah model berpikir yang dianjurkan dalam Islam. Ayat ini menyuruh umat Islam untuk merenungi fenomena yang terjadi di alam semesta. Tujuannya, agar bertambah keimanan di dada seorang hamba setelah ia menyadari betapa hebat kuasa Allooh SWT yang mengatur alam tempat ia berada. Rasulullooh SAW dalam Hadisnya juga mengatakan, “Merenung sesaat lebih besar nilainya daripada amal-amal kebajikan yang dikerjakan oleh Dia jenis makhluk (manusia dan jin)” (HR Ibnu Majah).
Artinya, Allah SWT lebih menghargai orang yang bertafakur dan menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk dan Allah SAW sebagai Khalik, daripada seseorang yang hanya sibuk beribadah tanpa menyadari untuk siapa ia melakukan itu. Dalam konsep kaum sufi , tafakur tidak hanya sekadar untuk mengetahui dan menetapkan adanya Tuhan, tetapi lebih dari itu, untuk mencari nilai dan rahasia dari suatu objek yang sedang dipikirkan dan di renungkannya sebagai makhluk yang di ciptakan Tuhan tanpa sia-sia.
Filsuf Islam abad hp ke-20 Sayid Hussein an-Nasr mengatakan, kosmologi sufi dengan demikian bertalian dengan aspek-aspek kualitatif dan simbolik benda-benda, bukan dengan aspek-aspek kuantitatif benda- benda. Ia menangkap, ada cahaya di atas benda- benda sehingga dengan demikian, benda- benda itu menjadi objek perenungan (tafakur) yang bernilai, mudah dimengerti serta jernih, dan hilang kekaburan serta kegelapannya. Ayat kauniyah membahas tentang kejadian alam (kosmos) yang mengindikasikan ada sesuatu yang terkandung di balik tanda itu. Tanda itu harus diper hatikan dan direnungkan untuk mengetahui arti yang terkandung di dalamnya. Jadi, tafakur atau memikirkan dan merenungkan kosmos ini adalah anjuran yang jelas dan tegas dalam Al-Quran. Menurut kalangan kaum sufi, bertafakur adalah suatu jalan untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki. Imam al-Ghazali mengatakan, inilah yang diwadahi oleh tasawuf untuk merenung dan bertafakur, yang selanjutnya menjadi jalan yang akan membawa pada kebenaran hakiki. Al-Ghazali mengatakan, pemahaman, pemikiran, dan perenungan tersebut dimulai dari hati yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala.
Umat Islam disuruh untuk bertafakur dan merenungi ciptaan Allah dan dilarang untuk memikirkan Zat Allah SWT. Kerdilnya ilmu yang dimiliki manusia tidak akan sanggup untuk membahas Zat Allah yang Maha Luas. Al-Qur’an menegaskan, berpikir dan merenung tentang kejadian alam dengan segala fenomenanya ini dapat dijadikan tanda adanya sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Keutamaan tafakur adalah membuat seseorang semakin mengenal Allah. Orang yang gemar bertafakur akan mengetahui betapa besar kekuasaan Allah, sehingga timbul rasa cinta sekaligus takut kepada Allah.