Self-Reflection

Sometimes the ugliness and disgrace of a person is not pleasing to the eye but is a lesson for those who listen / give worship. Bad for the owner but good for self-correction. Maybe, people who judge someone badly is not necessarily better, it can even be worse. Materials for self-reflection and culture of shame

Terkadang keburukan dan aib seseorang tidak enak dilihat tapi merupakan hikmah bagi yang mendengarkan/ bergibah. Buruk bagi pemiliknya tapi baik sebagai bahan koreksi diri. Mungkin, orang yang menilai buruk seseorang belum tentu lebih baik, bahkan bisa lebih buruk. Bahan Refleksi diri dan budaya malu.

Sugar Cane

Habis manis sepah dibuang. Janganlah memperlakukan seorang teman seperti tebu. Ketika  manis di sanjung  setelah Habis manis dicampakan seperti sampah. Belajarlah, memanusiakan manusia . Karena besok kamu tua tidak ada bedanya seperti ampas, begitulah dunia. Tidak ada yang dapat terlepas dari hukum karma.
When the sweetness is gone, the pulp is thrown out. Don’t treat a friend like sugar cane. When it’s sweet, it’s flattered after it’s finished, it’s thrown away like trash. Learn, humanize humans. ‘Cause tomorrow you’re old it’s no different like dregs, that’s the world. Nothing can escape the law of karma

Geopolitik Global

Perubahan geopolitik global memiliki relevansi terhadap geopolitik nasional kita. Amerika lengah disaat perang Rusia dan Ukraina, karena negara Islam Cehcnya berpihak pada Rusia serta ikut memerangi Ukraina secara militan, cukup memberi pelajaran bagi Amerika.

Tentu, Amerika jangan sampai kecolongan lagi saat ada konflik di Indo-Asia-Pasific. Indonesia sebagai negara muslim terbesar. Wajib untuk dirangkul Amerika dalam menghadapi ekspansi agresif big power dari timur.

Catatan politik di lingkungan strategis dan dimata global, posisi Indonesia saat ini sudah tidak lagi “Bunny boy”-nya Amerika seperti era penguasa sebelumnya. Tetapi, lebih condong dan terafiliasi ke negara besar di Timur. Hal ini tentu akan membuat gelisah Amerika.

Ditetapkannya resolusi PBB tentang “Gerakan Anti Islam Fobhia” dan disahkannya UU anti Islamphobia baik di Amerika dan di dunia, adalah lampu hijau bagi ummat Islam dunia, tapi “warning” yang keras terhadap kelompok-kelompok yang memusuhi Islam sedemikian rupa saat ini. Seperti yang terjadi di pemerintahan saat ini.

Gelombang demonstrasi yang tiada henti baik dari mahasiswa yang mulai bangkit dan terbangun dari tidur panjangnya, dari emak-emak, dari serikat buruh, dari para purnawirawan serta kelompok civil society ummat Islam, menandakan ada perubahan besar dalam konstalasi politik nasional.

Ternyata intimidasi, kriminalisasi, pembunuhan, diskriminasi, fan caci maki terhadap kelompok Islam beberapa tahun belakangan. Bukan semakin lema, justru semakin solid dan terkonsolidasi. Begitu juga dengan elemen kekuatan lainnya seperti mahasiswa dan buruh.

Ditambah berbagai persoalan “cash flow” keuangan negara Indonesia yang menurut media asing menuju “bangkrut”. Hutang menggunung menjadi beban APBN, kenaikan harga BBM dan sembako yang menggila, serta permasalahan sosial-politik-ketidakadilan hukum lainnya, bagaikan stimulus yang terus menjadi bahan bakar perlawanan rakyat di seantero negeri.

Jadi wajar banyak pengamat ekonomi  dan para mantan militer dan inteligent di negeri ini mengatakan ; Warning buat kejatuhan penguasa sudah semakin dekat dan nyata. Apabila tidak ada “treatmant” khusus dalam mengatasinya.

Jadi wajar saat ini, sering terjadi persekusi, diskriminasi, caci maki, terhadap kelompok Islam Al Sunnah Waljamaah. Sudah tak terhitung berapa ulama dan tokoh Islam di penjarakan penguasa saat ini

Sudah tak terhitung agenda, dan narasi kebencian yang dilakukan oleh penguasa. Mulai dari isu radikalisme, cadar, pesantren sarang teroris, kadrunisme, suara azan di permasalahkan, masjid masjid diintimidasi, ulama dan pendakwah tak ada harganya lagi.

Sekolah keagamaan Islam disantroni seperti penjahat. Dan yang paling parah adalah, mengakitkan Islam dengan ancaman terorisne.

Semua perlakuan buruk terhadap ummat Islam oleh Penguasa. Sangat berbahaya dan membara seperti api ditumpuk dalam sekam. Ini “warning” keras kita maksudkan pada judul tulisan diatas, karena konstalasi politik global saat ini mulai bergeser dan berubah.

Barat saat ini punya kepentingan besar terhadap ummat Islam dalam melawan hegemoni  di Asia Pasifik. Di satu sisi, Islam Indonesia yang saat ini sedang “babak belur” di hajar rezim.

Para big power inilah yang mendikte dan mengendalikan rezim hari ini. Dan mereka ini juga yang menjadi “jembatan” dan pelaksana dari agenda big power dari timur di negeri ini

Harus kekuatan besar dengan berbagai macam kuncian dan infrastruktur kekuasaannya. Big power akan lumpuh, maka penguasa akan lemas.

Bila perkiraan ini terjadi, inilah yang akan menakutkan kita semua. Tak terbayangkan bagaimana arus balik, perlawanan dan pelampiasan dendam ummat Islam Indonesia terhadap satu kelompok tertentu.

Potrait buram 1948, 1965, dan 1998 bisa saja terulang kembali. Ketika rakyat tertindas oleh kediktatoran sebuah rezim, maka ketika lahir monentum balik, maka arus pembalasan dendamnya bisa terjadi berlipat ganda.

King of the heart

For example, a CEO who is very critical and analytical in order to run the company efficiently. But on the other hand, this CEO can lose moral values and become the king of the heart if trapped in an analytical way of thinking. people who are critical and analytical usually do not have the nature of empathy or commonly called the king of the heart. The reason is that the area of the brain that functions to process empathy becomes inactive when the part of the brain that functions to analyze becomes active and vice versa. This means that people who are busy analyzing may lack empathy. when the brain's analytical network is active, our ability to appreciate human feelings is suppressed. But at rest, the brain is in an intermediate stage. Our cognitive structures have evolved. Empathy and analytical thinking lie mutually exclusive / a predominant sense of ego that exists in the brain, at least to a certain extent.

Contoh, seorang CEO yang sangat kritis dan analitis agar dapat menjalankan perusahaan dengan efisien. Namun di sisi lain, CEO ini bisa kehilangan nilai moral dan menjadi Raja tega jika terjebak dalam cara berpikir analitis. orang yang kritis dan analitis biasanya tidak memiliki sifat empati atau biasa disebut raja tega. Penyebabnya, area otak yang berfungsi memproses empati jadi tak aktif saat bagian otak yang berfungsi untuk menganalisis menjadi aktif dan sebaliknya. Artinya orang yang sibuk menganalisis mungkin kurang dapat berempati. ketika jaringan analitik otak aktif, kemampuan kita untuk menghargai perasaan manusia ditekan. Namun saat beristirahat, otak berada dalam tahap di antara keduanya. Struktur kognitif kita sudah berevolusi. Empati dan pemikiran analitis terletak saling eksklusif / rasa ego menonjol yang ada di otak, setidaknya sampai batas tertentu.

People power

People power is a term for a mass demonstration movement that wants to overthrow the power of the president by force. This movement was carried out by means of mass demonstrations involving many people taking to the streets. The purpose of this action is to force the president to relinquish his position which is considered to have violated the state constitution or a dangerous deviation for the state.


People power adalah istilah bagi suatu gerakan aksi demonstrasi massa yang ingin menggulingkan kekuasaan presiden secara paksa. Upaya gerakan ini dilakukan dengan cara aksi demonstrasi masa yang melibatkan banyak rakyat turun ke jalan. Tujuan aksi ini adalah memaksa presiden melepaskan jabatannya yang dianggap telah melanggar konstitusi negara atau penyimpangan yang berbahaya bagi negara.

Istilah people power dapat disama artikan dengan kekuatan rakyat. Hal ini karena rakyat berupaya mengumpulkan kekuatan untuk melawan dan melakukan protes terhadap kesewenangan yang dilakukan penguasa.