Perubahan geopolitik global memiliki relevansi terhadap geopolitik nasional kita. Amerika lengah disaat perang Rusia dan Ukraina, karena negara Islam Cehcnya berpihak pada Rusia serta ikut memerangi Ukraina secara militan, cukup memberi pelajaran bagi Amerika.
Tentu, Amerika jangan sampai kecolongan lagi saat ada konflik di Indo-Asia-Pasific. Indonesia sebagai negara muslim terbesar. Wajib untuk dirangkul Amerika dalam menghadapi ekspansi agresif big power dari timur.
Catatan politik di lingkungan strategis dan dimata global, posisi Indonesia saat ini sudah tidak lagi “Bunny boy”-nya Amerika seperti era penguasa sebelumnya. Tetapi, lebih condong dan terafiliasi ke negara besar di Timur. Hal ini tentu akan membuat gelisah Amerika.
Ditetapkannya resolusi PBB tentang “Gerakan Anti Islam Fobhia” dan disahkannya UU anti Islamphobia baik di Amerika dan di dunia, adalah lampu hijau bagi ummat Islam dunia, tapi “warning” yang keras terhadap kelompok-kelompok yang memusuhi Islam sedemikian rupa saat ini. Seperti yang terjadi di pemerintahan saat ini.
Gelombang demonstrasi yang tiada henti baik dari mahasiswa yang mulai bangkit dan terbangun dari tidur panjangnya, dari emak-emak, dari serikat buruh, dari para purnawirawan serta kelompok civil society ummat Islam, menandakan ada perubahan besar dalam konstalasi politik nasional.
Ternyata intimidasi, kriminalisasi, pembunuhan, diskriminasi, fan caci maki terhadap kelompok Islam beberapa tahun belakangan. Bukan semakin lema, justru semakin solid dan terkonsolidasi. Begitu juga dengan elemen kekuatan lainnya seperti mahasiswa dan buruh.
Ditambah berbagai persoalan “cash flow” keuangan negara Indonesia yang menurut media asing menuju “bangkrut”. Hutang menggunung menjadi beban APBN, kenaikan harga BBM dan sembako yang menggila, serta permasalahan sosial-politik-ketidakadilan hukum lainnya, bagaikan stimulus yang terus menjadi bahan bakar perlawanan rakyat di seantero negeri.
Jadi wajar banyak pengamat ekonomi dan para mantan militer dan inteligent di negeri ini mengatakan ; Warning buat kejatuhan penguasa sudah semakin dekat dan nyata. Apabila tidak ada “treatmant” khusus dalam mengatasinya.
Jadi wajar saat ini, sering terjadi persekusi, diskriminasi, caci maki, terhadap kelompok Islam Al Sunnah Waljamaah. Sudah tak terhitung berapa ulama dan tokoh Islam di penjarakan penguasa saat ini
Sudah tak terhitung agenda, dan narasi kebencian yang dilakukan oleh penguasa. Mulai dari isu radikalisme, cadar, pesantren sarang teroris, kadrunisme, suara azan di permasalahkan, masjid masjid diintimidasi, ulama dan pendakwah tak ada harganya lagi.
Sekolah keagamaan Islam disantroni seperti penjahat. Dan yang paling parah adalah, mengakitkan Islam dengan ancaman terorisne.
Semua perlakuan buruk terhadap ummat Islam oleh Penguasa. Sangat berbahaya dan membara seperti api ditumpuk dalam sekam. Ini “warning” keras kita maksudkan pada judul tulisan diatas, karena konstalasi politik global saat ini mulai bergeser dan berubah.
Barat saat ini punya kepentingan besar terhadap ummat Islam dalam melawan hegemoni di Asia Pasifik. Di satu sisi, Islam Indonesia yang saat ini sedang “babak belur” di hajar rezim.
Para big power inilah yang mendikte dan mengendalikan rezim hari ini. Dan mereka ini juga yang menjadi “jembatan” dan pelaksana dari agenda big power dari timur di negeri ini
Harus kekuatan besar dengan berbagai macam kuncian dan infrastruktur kekuasaannya. Big power akan lumpuh, maka penguasa akan lemas.
Bila perkiraan ini terjadi, inilah yang akan menakutkan kita semua. Tak terbayangkan bagaimana arus balik, perlawanan dan pelampiasan dendam ummat Islam Indonesia terhadap satu kelompok tertentu.
Potrait buram 1948, 1965, dan 1998 bisa saja terulang kembali. Ketika rakyat tertindas oleh kediktatoran sebuah rezim, maka ketika lahir monentum balik, maka arus pembalasan dendamnya bisa terjadi berlipat ganda.