The community's collective fears can easily be found in historical documentation. The cause is an element of authoritarian and repressive power. Like ; The pharaohs were cruel and disbelieved in God, the Roman emperor Nero had mental disorders, Hitler and Mussolini were fascist leaders from World War II. Polpot and the Khmer Rouge in Cambodia or Mao Tse Tung, the leader of the Chinese communists.
Collective fear has an effect on assassination and character assassination which has been massively planned and engineered by officials who think that they are leaders and become rulers.
The ways of approaching power so that people were afraid in the colonial period were different from the present. Some members of society today prefer to be pragmatic, by flowing social and political currents that were deliberately or not developed by officials. They feel themselves to be the rulers, many motives are created by fear, such as;
a. to lose positions and positions,
b. experiencing a state degradation,
c. Transferred to a lower place than the original place d. Discrimination in public service.
The imagination of fear has already been formed strongly to hinder the implementation of democracy, especially at the level of community participation in supervising the implementation of government and the implementation of regional government. Symptoms of hypocritical and hypocritical character formation are rampant. This attitude was formed since colonial oppression was so structured and massive.
Indonesian people are formed to have a feudal spirit, almost everything that comes into contact with humanity is judged by position, position and position. Officials under regional authorities, in general, cannot be critical because there is a feeling of fear that has turned into the attitude of "As long as Mr Likes" has acute symptoms.
Ketakutan kolektif masyarakat dapat mudah ditemukan di dokumentasi sejarah. Penyebabnya adalah unsur kekuasaan yang otoriter dan represif. Seperti ; Fir,aun yang kejam dan ingkar kepada Allah, Nero kaisar Romawi punya gangguan jiwa,Hitler dan Mussolini pemimpin fasis dari peristiwa Perang Dunia II.Polpot dan Khmer merahnya diKamboja ataupun Mao tse tung pemimpin komunis Tiongkok.
Ketakutan kolektif berpengaruh pada pembunuhan dan pembunuhan karakter sudah direncanakan dan direkayasa secara masif oleh pejabat yang menganggap dirinya adalah pemimpin serta jadi penguasa.
Cara-cara pendekatan kekuasaan agar orang ketakutan di masa kolonial memiliki perbedaan dengan masa kekinian.Sebagian anggota masyarakat saat ini lebih memilih bersikap pragmatis, dengan mengalir arus sosial dan politik yang sengaja ataupun tidak dikembangkan oleh para pejabat. Mereka merasa dirinya menjadi penguasa, banyak motif diciptakan rasa takut, seperti;
a.kehilangan posisi dan jabatan,
b. mengalami degradasi status,
c. Dimutasi ketempat yang lebih rendah dari tempat semula d. Diskriminasi dalam pelayanan publik.
Imajinasi ketakutan terlanjur terbentuk kuat untuk menghambat pelaksanaan demokrasi, terutama di tingkat partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelaksanaan pemerintahan dan pelaksanaan pemerintahan daerah. Gejala pembentukan karakter hipokrit dan munafik merajalela. Sikap tersebut terbentuk sejak penindasan kolonial yang begitu terstruktur dan masif.
Manusia Indonesia dibentuk untuk memiliki jiwa feodal, hampir segala semua yang bersentuhan dengan kemanusiaan dinilai dari kedudukan , posisi serta jabatan. Pejabat dibawah penguasa daerah, pada umumnya tidak bisa kritis karena adanya rasa takut yang berubah jadi sikap Asal Bapak Suka sudah akut gejalanya.
Camouflage
Military camouflage is a strategy used by the military to prevent troops from being seen by the enemy. The main purpose of military camouflage is to deceive the enemy from the presence of military forces. The application of camouflage involves adding colors and materials to all types of military equipment, including vehicles, ships, aircraft, rifles and uniforms to hide them from observation or make them appear as something else (mimicry). Military camouflage clothing is usually referred to as striped. Camouflage originates from the French word camouflage, whose use began to become common during World War I, when the concept of visual deception developed into an important part of modern military tactics. In that war, long-range artillery and aerial surveillance combined to expand the field of fire, and camouflage was used extensively to reduce the danger of being targeted or to allow surprise. Thus, military camouflage is a form of military ruse.
Kamuflase militer adalah strategi yang digunakan oleh militer untuk menghindari pasukan terlihat oleh pihak musuh. Tujuan utama kamuflase militer adalah mengecoh musuh akan kehadiran pasukan militer. Penerapan kamuflase berupa penambahan warna dan bahan ke semua jenis peralatan militer, termasuk kendaraan, kapal, pesawat terbang, senapan, dan pakaian seragam untuk menyembunyikannya dari pengamatan atau membuatnya tampak sebagai sesuatu yang lain (mimikri). Pakaian kamuflase militer biasanya disebut sebagai loreng. Kamuflase betasal dari bahasa Prancis camouflage, yang penggunaannya mulai menjadi umum selama Perang Dunia I ketika konsep muslihat visual berkembang menjadi bagian penting dari taktik militer modern. Dalam perang itu, artileri jarak jauh dan pengamatan dari udara digabungkan untuk memperluas medan tembak, dan kamuflase digunakan secara luas untuk mengurangi bahaya menjadi sasaran atau untuk memungkinkan kejutan. Dengan demikian, kamuflase militer adalah bentuk muslihat militer.
Contingency plan
Contingency plan is an English term that means backup plan or Plan B. Some people then call it an emergency plan or contingency plan or plan B. With plan B or backup plan, various things will then be carried out. This is because uncertainty and a market that is always dynamic are big enemies in the business world. In addition, with the increasing number of emergence of new competitors will also tighten competition at this time. Therefore the existence of a contingency plan will then greatly assist the company in facing even the worst possibilities. The contingency plan itself is a precise strategy in anticipating various types of adverse risks. However, preparing this plan also offers various benefits for the company.
Contingency plans will indirectly encourage companies to analyze the strengths and weaknesses of a business idea.
The strategy in the contingency plan itself will reduce the company's potential losses if the predicted risk actually occurs.
The contingency plan will reduce the feeling of panic that often arises in the minds of shareholders, employees and the management team.
Planning a contingency plan can build a company's reputation as a professional and trustworthy institution.
Steps to Create a Contingency Plan
1. Identify and Prioritize Resources
2. Find Critical Event Risks
3. Create a Contingency Plan Draft
4. Decide What Steps Can Be Taked To Get Back In Business
5. Distribute the Draft Plan
6. Test the Contingency Plan.
7. Simulate the Plan.
8. Do a Review
9. Keep the Contingency Plan in an Easily Accessible Place
Contingency plan merupakan istilah bahasa Inggris yang bermakna rencana cadangan atau Plan B. Beberapa orang kemudian menyebutnya sebagai rencana darurat atau rencana kontijensi atau plan B. Dengan plan B atau rencana cadangan ini kemudian akan dilakukan berbagai hal. Pasalnya, ketidakpastian dan pasar yang selalu dinamis merupakan musuh besar dalam dunia bisnis. Selain itu, dengan semakin banyaknya kemunculan kompetitor baru juga akan memperketat persaingan di saat ini. Oleh karenanya keberadaan contingency plan kemudian akan sangat membantu perusahaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk sekalipun. Contingency plan sendiri merupakan suatu strategi jitu dalam mengantisipasi berbagai jenis risiko yang merugikan. Kendati demikian, menyusun rencana ini juga menawarkan berbagai manfaat bagi perusahaan.
Contingency plan secara tidak langsung akan mendorong perusahaan dalam menganalisis kekurangan dan kelebihan suatu ide bisnis.
Strategi pada contingency plan sendiri akan mengurangi potensi kerugian perusahaan jika risiko yang diprediksi benar-benar terjadi.
Contingency plan akan meredam rasa panik yang kerap muncul di benak shareholder, karyawan dan tim manajemen.
Merencanakan contingency plan dapat membentuk reputasi perusahaan sebagai institusi yang profesional dan dapat dipercaya.
Langkah Membuat Contingency Plan
1. Identifikasi dan Prioritaskan Sumber Daya
2. Temukan Risiko Peristiwa Kritis
3. Buat Draft Contingency Plan
4. Putuskanlah Langkah Apa Saja yang Dapat Diambil Untuk Kembali Menjalankan Bisnis
5. Bagikan Draft Rencana Tersebut
6. Ujilah Contingency Plan.
7. Simulasikan Rencana.
8. Lakukan Peninjauan Ulang
9. Simpanlah Contingency Plan di Tempat yang Mudah Dijangkau
Negotiation
Negotiation in International Relations is a phenomenon that has crystallized as is often done by diplomats and or negotiators in various forums: bilateral, multilateral and global, as well as in its various substances, both carried out by states and non-states. The essence of negotiation is both science and art. Where, intellectual ability as well as art or skill is needed for every individual, organization, or institution or country to practice it in an effort to achieve its goals. In other words, negotiations in international relations can be expressed as the spirit or lifeblood of the perpetrators.
Negosiasi dalam Hubungan Internasional adalah sebuah fenomena yang telah mengkristal sebagaimana yang sering dilakoni oleh para diplomat dan atau negosiator dalam berbagai forum : bilateral, multilateral, maupun global, serta dalam berbagai substansinya baik yang dilakoni oleh negara maupun non-negara. Hakekat negosiasi adalah menyangkut ilmu pengetahuan sekaligus seni. Di mana, dibutuhkan kemampuan intelektual sekaligus seni atau keterampilan bagi setiap individu, organisasi, atau lembaga maupun negara untuk mempratekkannya dalam rengak mencapai tujuannya. Dengan kata lain, negosiasi dalam hubungan internasional dapat dinyatakan sebagai roh atau urat nadi bagi para pelakunya.
The Most Unique Deception Strategy in World War II.
1. Operation Starfish fake town.
2. Wooden tanks in Operation Bertram.
3. The fake sabotage of the de Havilland factory.
4. False reports from double agents.
5. Operation Mincemeat. 6. Operation Scherhorn.
7. Ghost Army Units.
8. Puppet paratroopers in the Normandy Invasion
Strategi Pengecoh Paling Unik dalam Perang Dunia II.
1. Kota palsu Operasi Starfish.
2. Tank kayu dalam Operasi Bertram.
3. Sabotase palsu pabrik de Havilland.
4. Laporan palsu dari agen ganda.
5. Operasi Mincemeat. 6. Operasi Scherhorn.
7. Unit Ghost Army.
8. Pasukan terjun payung boneka dalam Invasi Normandia