If we look at it together, it turns out that many people have the ability; the way she cries when she laughs and even smiles. implement a sense of inversely proportional between the heart and the brain. Physically he was laughing but actually there was pain suffered in his heart. If we are sensitive then we will accommodate if we have an intelligent sense of sensitivity towards this kind of person. Usually his prayer is efficacious, because it is in silence. Inside he feels the suffering of others. At times like this this person prays, may he be given enough Strength and Fortune. At times like this, a smile can be synonymous with crying. Come on, let's be sensitive and intelligent in life!
Bila kita cermati bersama, ternyata banyak orang yang memiliki kemampuan ; cara menangisnya saat dia tertawa bahkan tersenyum. mengimplementasi rasa dengan berbanding terbalik antara hatinya dengan otak. Secara pisik dia tertawa tapi sesungguhnya ada rasa perih yang diderita dalam batinnya. Bila kita peka maka kita akan betempati bila kita punya kepekaan rasa yang cetdas terhadap orang sacam ini. Biasanya doanya manjur, karena dalam diamnya. Dalam batinnya ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Saat seperti ini orang ini berdoa, semoga dia diberi Kekuatan dan Rezeki yang cukup. Disaat seperti ini, Senyum bisa identik dengan tangis. Ayo, kita peka dan cerdas rasa dalam hidup!
Author Archives: Bambang Tutuko Kuntopati
Honesty And Fasting
The honesty taught in fasting will give birth to Ihsan behavior, behavior so that humans sincerely do good deeds only to Allah. As the Prophet SAW was asked by Jibril about the meaning of ihsan? then he replied: "You should worship Allah as if you see Him, even though you cannot see Him, but He still sees you (HR Bukhari).
Presenting the Face of God when Ramadhan passes?
It is common to see when Ramadan is over, individuals no longer recognize the face of their Lord and even stay away from ihsan behavior. Those who are used to corrupt behavior, bribery and other dishonest behavior will return to repeating their habits, not even a trace of the pious wisdom they did during fasting. Supposedly the values of honesty can be implemented in the movement patterns of daily life both during Ramadan and after Ramadan is over.
For this reason, it is necessary to appreciate Ihsan in life which can be achieved by presenting the face of Allah in performing individual and social piety as in the story of the shepherd boy above. Individual piety is carried out by maintaining our worship of Allah, such as prayer, dhikr, and other worship related to Allah. While social piety is reflected in social responsibility towards the poor and orphans which are symbols of weak people (al mustadz'afin) as a consequence of worshiping Allah.
Empathy for the weak is aimed not because of self-image but solely because they want to hope for His pleasure. This is where the relevance of fasting in the month of Ramadan becomes very important, because it is through fasting that humans are taught to be honest both to themselves, to the environment and especially to Allah in every deed. Losing honesty will bring self-leadership that is less trustworthy and tends to be corrupt. A thin spirit of trust will result in a lack of faith and make people easily fall into the abyss of corruption.
Kejujuran yang diajarkan dalam berpuasa akan melahirkan perilaku Ihsan, perilaku agar manusia ikhlas beramal semata kepada Allah. Sebagaiman Nabi SAW pernah ditanya jibril perihal pengertian ihsan? maka jawab Beliau: “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekalipun engkau tidak dapat melihatNya, namun Dia tetap melihatMu (HR Bukhari).
Menghadirkan Wajah Tuhan ketika Ramadhan berlalu?
Sudah jamak dilihat ketika ramadhan usai, maka individu pun tak lagi mengenal wajah Tuhannya bahkan menjauh dari perilaku ihsan. Mereka yang terbiasa berperilaku korupsi, suap dan perilaku tidak jujur lainnya akan kembali mengulang kebiasaanya, tak berbekas sedikitpun hikmah kesalehan yang dilakukannya selama berpuasa. Semestinya nilai-nilai kejujuran dapat diimplementasikan dalam pola gerak keseharian kehidupan baik selama ramadhan dan setelah ramadhan usai.
Untuk itu diperlukan penghayatan Ihsan dalam kehidupan yang bisa dicapai dengan menghadirkan wajah Allah dalam melakukan kesalehan individu maupun kesalehan sosial seperti dalam cerita anak gembala di atas. Kesalehan individu dilakukan dengan memelihara ibadah kita kepada Allah, seperti shalat, dzikir, dan ibadah lain yang berhubungan dengan Allah. Sementara kesalehan sosial tercermin dari tanggungjawab sosial terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu yang merupakan simbol orang-orang lemah (al mustadz’afin) sebagai konsekuensi dari peribadatan kepada Allah.
Empati kepada kaum lemah ditujukan bukan karena pencitraan diri tapi semata-mata karena ingin mengharap RidhaNya. Disinilah relevansi ibadah puasa dalam Bulan Ramadhan menjadi sangat penting, karena lewat puasalah manusia diajarkan untuk jujur baik kepada diri sendiri, lingkungan dan terutama kepada Allah dalam setiap amalnya. Kehilangan kejujuran akan mendatangkan kepemimpinan diri yang kurang amanah dan cenderung korup. Tipisnya jiwa amanah akan mengakibatkan tipisnya iman dan membuat orang mudah terjermbab dalam jurang korupsi.
Psychological warfare
Psychological warfare is a form of offensive propaganda launched by two or more parties with conflicting opinions. An action carried out by means of psychology with the aim of evoking a psychological reaction that has been designed for another person. Psychological warfare is often part of a war strategy, including guerrilla warfare. If it becomes part of a war strategy, psychological warfare is usually a separate operation, in English terms it is called PSY-OP (psychological operation). Human psychological reactions are considered as the main target priority. The main purpose of psychological warfare is to change public attitudes or opponents so that the level of opposition or militancy decreases. The most important point of attack in psychological warfare is the human mind. A defeat in thinking from humans is considered a defeat for a political human being without having to go through a conventional war, namely by using bullets. Political wars are born and develop in the political environment constantly in collective society groups which are the "environment" in and the right place for political guerrilla warfare.
Psychological operations in political wars are considered to be a determining factor to influence the target audience's value systems, belief systems, emotions, motives, thoughts, and behaviors. The target (audience) in psychological operations can be government, organization, groups, and individuals using information technology to strengthen attitudes and behavior, the target can be beginners or sometimes a combination.
Perang psikologis lebih dikenal orang dengan perang urat saraf merupakan bentuk propaganda ofensif yang dilancarkan dua atau lebih pihak yang saling bertentangan pendapat. Suatu tindakan yang dilancarkan dengan cara-cara psikologi dengan tujuan membangkitkan reaksi psikologis yang telah dirancang terhadap orang lain. Peperangan psikologis sering kali menjadi bagian dari strategi perang, termasuk perang gerilya. Jika menjadi bagian dari strategi perang, peperangan psikologis biasanya menjadi operasi terpisah, dalam istilah bahasa Inggris disebut PSY-OP (psychological operation). Reaksi psikologis manusia dianggap sebagai prioritas utama sasaran. Tujuan utama peperangan psikologis adalah mengubah sikap publik atau lawan agar berkurang tingkat penentangan atau militansinya. Titik serang paling penting dalam peperangan psikologis adalah pikiran manusia. Kekalahan dalam berpikir dari manusia dianggap merupakan kekalahan dari Insan politik tanpa harus melalui sebuah peperangan konvensional yaitu dengan penggunaan peluru. Perang politik lahir dan berkembang di lingkungan politik secara konstan pada kelompok masyarakat secara kolektif yang merupakan "lingkungan" dalam dan tempat yang tepat bagi perang gerilya politik.
Operasi psikologis dalam perang politik dianggap menjadi faktor yang menentukan untuk memengaruhi target sistem tata nilai pemirsa, sistem kepercayaan, emosi, motif, pemikiran, dan perilaku. Sasaran (pemirsa) dalam operasi psikologis bisa jadi pemerintah, organisasi, kelompok, dan individu dengan menggunakan teknologi informasi dalam memperkuat sikap dan perilaku, sasaran bisa jadi pemula atau kadang-kadang kombinasi.
Tongue

The tongue is closely related to the sense of taste. Most of the tongue is composed of two muscle groups. Taken from the book Anatomy and Physiology for Paramedics (2009) by Evelyn C Pearce, these two muscle groups, namely the intrinsic muscles of the tongue, perform all smooth movements.
And the extrinsic muscles that link the tongue to the surrounding area to make rough movements which are very important when chewing and swallowing. The tip and edges of the tongue are in contact with the lower teeth, while the dorsum is a curved surface on the top of the tongue. When the tongue is rolled back, you will see its lower surface, which is called the frenulum linguae, a fine ligament structure. When extended, the tip of the tongue will be tapered. While located on the floor of the mouth, the tip of the tongue will be round.
The mucous membrane (mucous membrane) of the tongue is always moist and pink when healthy.
The upper surface of the tongue is like velvet and covered with papillae which consist of three types called papillae. These papillae help the tongue to identify flavors.
Lidah sangat berhubungan dengan indra pengecap. Sebagian besar lidah terdisi atas dua kelompok otot.Diambil dari buku Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis (2009) karya Evelyn C Pearce, dua kelompok otot tersebut, yaitu otot instrinsik lidah yang melakukan semua gerakan halus.
Dan otot ekstrinsik yang mengaitkan lidah pada bagian sekitarnya untuk melakukan gerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Ujung serta pinggiran pada lidah bersentuhan dengan gigi-gigi bawah, sementara dorsum merupakaan permukaan yang melengkung pada bagian atas lidah.Bila lidah digulung ke belakang, maka akan terlihat permukaan bawahnya yang disebut frenulum linguae sturktur ligamen halus. Bila dijulurkan, ujung lidah akan meruncing. Sedangkan terletak di dasar mulut, ujung lidah akan berbentuk bulat.
Selaput lendir (membran mukosa) lidah selalu lembap dan pada waktu sehat bewarna merah jambu.
Permukaan atas lidah seperti beledu dan ditutupi papil-papil yang terdiri atas tiga jenis bernama papila. Papila inilah yang membantu lidah untuk mengidentifikasi rasa.
Earthquake in Cianjur, Indonesia

The earthquake that just occurred in Cianjur, West Java, was quite surprising and shook our hearts as weak creatures of God. We don’t know anything about where, when there will be an earthquake. Without anyone knowing, suddenly on Monday 21 November 2022 an earthquake occurred in Cianjur district of 5.6 SR
Scientifically, the vibrations that occur on the surface of the earth are due to the sudden release of energy from within which causes seismic waves. The movement of the earth’s crust or plates of the earth is the cause of earthquakes. Based on the cause, earthquakes are divided into collapse earthquakes, impact earthquakes? man-made earthquakes and volcanic earthquakes.

Gempa bumi yang baru saja terjadi di Cianjur Jawa Barat cukup mengejutkan dan menyentak hati kita sebagai makhluk tuhan yang lemah. Kita tidak tahu apapun tentang dimana, kapan akan terjadi gempa bumi. Tanpa ada yang tahu tiba-tiba pada hari senin 21 November 2022 terjadi gempa bumi di kabupaten Cianjur 5,6SR.
Secara ilmiah,getaran yang terjadi pada permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menyebabkan terjadinya gelombang seismik. Pergerakan kerak bumi atau lempeng bumi adalah penyebab terjadinya gempa bumi. Berdasarkan penyebabnya maka gempa bumi dibedakan atas grmpa bumi runtuhan, gempa bumi tumbukan? gempa bumi buatan dan gempa bumi vulkanik.