The Appearance of a Rainbow

The process of the formation of the sun involves three stages viz
1. Reflection
2. Dispersion
3. Refraction.

The appearance of a rainbow is caused by two elements, namely the presence of sunlight and raindrops. If the sun's rays shine on the rain, then the rainwater will reflect the light and refract various colors. But if that doesn't happen, then the rainbow won't appear.


Proses terbentuknya matahari melibatkan tiga tahap yakni
1. Refleksi
2. Dispersi
3. Refraksi.

Munculnya pelangi disebabkan oleh dua unsur yakni adanya sinar matahari dan tetesan air hujan. Jika sinar Matahari bersinar di atas hujan, maka air hujan akan merefleksikan cahaya dan membiaskan bermacam-macam warna. Namun jika hal itu tidak terjadi, maka pelangi tidak akan muncul.

Doomsday Sign

Golden mountain in South Kivu Province, Congo. This discovery is associated with the coming of the end of time or doomsday.
This comes from the drying up of the Euphrates River which turned into a mountain of gold. However, the location where the mountain of gold was found is very far from the Euphrates River. In a Hadith in the history of Bukhari and Muslim, Rasulullah SAW said: "There is near a time of doomsday when the Euphrates River will recede, then a treasury of gold will appear, then whoever is present at there let him not take anything from it."
Signs of the end times.
1. Splitting the Moon.
2. The Emergence of Fire from Medina
3. The emergence of the Dajjal 4. The slave girl gave birth to her master and many tall buildings.
5. Lots of ignorance and loss of religious knowledge.
6. Appointed by the Prophet Muhammad as the Prophet of the end of time.
7. Out comes a talking reptile.
8. The sun rises from the west.

Gunung emas di Provinsi Kivu Selatan, Kongo. Penemuan ini dikaitkan dengan datangnya akhir zaman atau kiamat.
Hal ini berasal dari mengeringnya Sungai Efrat yang berubah menjadi gunung emas. Namun lokasi ditemukannya gunung emas sangat jauh dari Sungai Efrat.Dalam suatu Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Sudah dekat suatu masa kiamat di mana Sungai Efrat akan menjadi surut airnya, lalu tampak perbendaharaan daripada emas, maka barang siapa yang hadir di situ janganlah ia mengambil sesuatu pun daripada harta itu."
Tanda-tanda akhir zaman.
1. Terbelahnya Bulan .
2. Munculnya Api dari Medinah
3. Munculnya Dajjal 4. Budak perempuan melahirkan tuannya dan banyak bangunan tinggi.
5. Banyaknya kebodohan dan hilangnya ilmu agama.
6. Diangkat Nabi Muhammad sebagai Rosul alhir zaman.
7. Keluar mahluk melata yang dapat bicara.
8. Terbit matahari dari barat.

Food Security

Food security is the availability of food and one's ability to access it. A household is said to have food security if the occupants are not in a state of hunger or are haunted by the threat of hunger. 43 main components of food security, namely; food availability, food access, and food utilization. Food availability is the ability to have a sufficient amount of food for basic needs. Access to food is the ability to have the resources, both economically and physically, to obtain nutritious food. Utilization of food is the ability to use food materials properly and proportionately.


Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan. 3 komponen utama ketahanan pangan, yaitu ; ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi. Pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional.

Cry and Smile

If we look at it together, it turns out that many people have the ability; the way she cries when she laughs and even smiles. implement a sense of inversely proportional between the heart and the brain. Physically he was laughing but actually there was pain suffered in his heart. If we are sensitive then we will accommodate if we have an intelligent sense of sensitivity towards this kind of person. Usually his prayer is efficacious, because it is in silence. Inside he feels the suffering of others. At times like this this person prays, may he be given enough Strength and Fortune. At times like this, a smile can be synonymous with crying. Come on, let's be sensitive and intelligent in life!


Bila kita cermati bersama, ternyata banyak orang yang memiliki kemampuan ; cara menangisnya saat dia tertawa bahkan tersenyum. mengimplementasi rasa dengan berbanding terbalik antara hatinya dengan otak. Secara pisik dia tertawa tapi sesungguhnya ada rasa perih yang diderita dalam batinnya. Bila kita peka maka kita akan betempati bila kita punya kepekaan rasa yang cetdas terhadap orang sacam ini. Biasanya doanya manjur, karena dalam diamnya. Dalam batinnya ikut merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Saat seperti ini orang ini berdoa, semoga dia diberi Kekuatan dan Rezeki yang cukup. Disaat seperti ini, Senyum bisa identik dengan tangis. Ayo, kita peka dan cerdas rasa dalam hidup!

Honesty And Fasting

The honesty taught in fasting will give birth to Ihsan behavior, behavior so that humans sincerely do good deeds only to Allah. As the Prophet SAW was asked by Jibril about the meaning of ihsan? then he replied: "You should worship Allah as if you see Him, even though you cannot see Him, but He still sees you (HR Bukhari).

Presenting the Face of God when Ramadhan passes?

It is common to see when Ramadan is over, individuals no longer recognize the face of their Lord and even stay away from ihsan behavior. Those who are used to corrupt behavior, bribery and other dishonest behavior will return to repeating their habits, not even a trace of the pious wisdom they did during fasting. Supposedly the values of honesty can be implemented in the movement patterns of daily life both during Ramadan and after Ramadan is over.

For this reason, it is necessary to appreciate Ihsan in life which can be achieved by presenting the face of Allah in performing individual and social piety as in the story of the shepherd boy above. Individual piety is carried out by maintaining our worship of Allah, such as prayer, dhikr, and other worship related to Allah. While social piety is reflected in social responsibility towards the poor and orphans which are symbols of weak people (al mustadz'afin) as a consequence of worshiping Allah.

Empathy for the weak is aimed not because of self-image but solely because they want to hope for His pleasure. This is where the relevance of fasting in the month of Ramadan becomes very important, because it is through fasting that humans are taught to be honest both to themselves, to the environment and especially to Allah in every deed. Losing honesty will bring self-leadership that is less trustworthy and tends to be corrupt. A thin spirit of trust will result in a lack of faith and make people easily fall into the abyss of corruption.



Kejujuran yang diajarkan dalam berpuasa akan melahirkan perilaku Ihsan, perilaku agar manusia ikhlas beramal semata kepada Allah. Sebagaiman Nabi SAW pernah ditanya jibril perihal pengertian ihsan? maka jawab Beliau: “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekalipun engkau tidak dapat melihatNya, namun Dia tetap melihatMu (HR Bukhari).

Menghadirkan Wajah Tuhan ketika Ramadhan berlalu?

Sudah jamak dilihat ketika ramadhan usai, maka individu pun tak lagi mengenal wajah Tuhannya bahkan menjauh dari perilaku ihsan. Mereka yang terbiasa berperilaku korupsi, suap dan perilaku tidak jujur lainnya akan kembali mengulang kebiasaanya, tak berbekas sedikitpun hikmah kesalehan yang dilakukannya selama berpuasa. Semestinya nilai-nilai kejujuran dapat diimplementasikan dalam pola gerak keseharian kehidupan baik selama ramadhan dan setelah ramadhan usai.

Untuk itu diperlukan penghayatan Ihsan dalam kehidupan yang bisa dicapai dengan menghadirkan wajah Allah dalam melakukan kesalehan individu maupun kesalehan sosial seperti dalam cerita anak gembala di atas. Kesalehan individu dilakukan dengan memelihara ibadah kita kepada Allah, seperti shalat, dzikir, dan ibadah lain yang berhubungan dengan Allah. Sementara kesalehan sosial tercermin dari tanggungjawab sosial terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu yang merupakan simbol orang-orang lemah (al mustadz’afin) sebagai konsekuensi dari peribadatan kepada Allah.

Empati kepada kaum lemah ditujukan bukan karena pencitraan diri tapi semata-mata karena ingin mengharap RidhaNya. Disinilah relevansi ibadah puasa dalam Bulan Ramadhan menjadi sangat penting, karena lewat puasalah manusia diajarkan untuk jujur baik kepada diri sendiri, lingkungan dan terutama kepada Allah dalam setiap amalnya. Kehilangan kejujuran akan mendatangkan kepemimpinan diri yang kurang amanah dan cenderung korup. Tipisnya jiwa amanah akan mengakibatkan tipisnya iman dan membuat orang mudah terjermbab dalam jurang korupsi.