Sanering or devaluation is cutting people's purchasing power through cutting the value of money. The same thing was not done with the prices of goods, so that people's purchasing power fell low.
Sanering in 1959 made people rush into banks to exchange money and shops to spend their money. After panic occurred, this policy caused the people's wealth accumulated over many years to disappear in an instant.
Sanering and redenomination are two different policies in terms of changes in the value of money, economic conditions, and implementation processes. Redenomination is the simplification of the value of a currency without changing its purchasing power, while sanering is a cut in the value of a currency which reduces its purchasing power.
Devaluation is similar to sanering. However, there is a difference where sanering is a reduction in the value of the domestic currency. Meanwhile, devaluation is a decrease in the exchange value of a foreign currency. The sanering policy is followed by withdrawing the current money and replacing it with new money.
Sanering atau devaluasi adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun rendah.
Sanering pada 1959 membuat masyarakat menyerbu bank untuk menukarkan uang dan toko-toko untuk membelanjakan uangnya. Setelah terjadi kepanikan, kebijakan ini membuat kekayaan rakyat yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes dalam sekejap.
Sanering dan redenominasi adalah dua kebijakan yang berbeda dalam hal perubahan nilai uang, kondisi ekonomi, dan proses penerapan. Redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengubah daya belinya, sedangkan sanering adalah pemotongan nilai mata uang yang menurunkan daya belinya.
Devaluasi serupa dengan sanering. Namun, terdapat perbedaan di mana sanering merupakan pemotongan nilai untuk mata uang dalam negeri. Sedangkan devaluasi merupakan penurunan nilai tukar dari mata uang asing. Kebijakan sanering diikuti dengan penarikan uang yang sedang berlaku dan menggantikannya dengan uang baru.
Published by Bambang Tutuko Kuntopati
humoris smart chalenge read politis diplomasi
View all posts by Bambang Tutuko Kuntopati