Disinformation in the post-truth era is a serious threat to the development of a healthy electoral democracy. The legitimacy of a truth is not based on verifiable facts, but on personal beliefs and affect or something that touches emotions and feelings.
As a result, lies and truth become difficult to identify. These disinformation practices based on lies and falsification then spread in more diverse forms thanks to the emergence of social media. Disinformation colored by hate speech in the media space has gradually resulted in sharper political polarization and threatened social cohesion.
In response to this, the Head of the National Intelligence Service (BIN) Budi Gunawan, in his book Democracy in the Post Truth Era, shows that social media has the ability to spread misinformation, generate wild conspiracy theories, speak negatively about certain parties without a clear basis. As well as causing polarization in society. Meanwhile, political practices in the post-truth era have had a negative impact on the eroding of healthy debate traditions in society, the occurrence of political stalemates, the uncertainty of a policy, and can even make people alienate themselves from political dynamics.
Disinformasi di era post-truth merupakan ancaman serius bagi terbangunnya demokrasi elektoral yang sehat. Legitimasi atas sebuah kebenaran tidak berdasarkan pada fakta yang dapat diverifikasi, tetapi pada keyakinan personal dan affect atau sesuatu yang menyentuh emosi dan rasa.
Akibatnya, kebohongan dan kebenaran menjadi sulit diidentifikasi. Praktik-praktik disinformasi berbasis kebohongan dan kepalsuan ini kemudian tersebar dengan bentuk yang lebih beragam berkat kemunculan media sosial. Disinformasi yang diwarnai ujaran-ujaran kebencian di ruang media lambat laun mengakibatkan polarisasi politik menjadi semakin tajam dan kohesi sosial menjadi terancam.
Menyikapi hal itu, Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Budi Gunawan, dalam buku Demokrasi di Era Post Truth, memperlihatkan bahwa media sosial memiliki kemampuan untuk menyebarluaskan informasi yang salah, memunculkan teori-teori konspirasi liar, membicarakan pihak tertentu secara negatif tanpa dasar yang jelas, serta menyebabkan terjadinya polarisasi di masyarakat. Dalam pada itu, praktik-praktik politik di era post-truth membawa dampak negatif terkikisnya tradisi perdebatan yang sehat di masyarakat, terjadinya kebuntuan politik, ketidakpastian suatu kebijakan, bahkan dapat menjadikan masyarakat mengalienasi diri dari dinamika politik.
Published by Bambang Tutuko Kuntopati
humoris smart chalenge read politis diplomasi
View all posts by Bambang Tutuko Kuntopati