Logic is the knowledge of the rules of thinking, logic, and reasonable ways of thinking.
While the feeling is the feel (taste) or the state of mind when facing (feeling) something.
Simply put, logic is something that makes sense and feelings are the heart's reaction to a situation.
Surely we ourselves know better how the situation relates logic to feelings.
Basically logic gives priority to concrete things, such as ways of thinking, analysis, observation, and something that reason might accept. Then, feelings basically put more emphasis on feelings, thoughts, and something that happens to the heart that is abstract in nature.
Even though the two are quite different in terms of understanding, that is precisely the relationship between the two. Humans live complementary and tolerant of each other, as well as logic and feelings.
Example; Sometimes feelings of hatred towards someone are very excessive. So that's where the role of logic comes in, where it has to be a reassurance that hate won't solve problems and won't make feelings calm.
On the other hand, there are times when logic gets tired, so it's hard to think clearly. So when logic is deadlocked, feelings will guide the mind and conscience.
The relationship between the two was born from differences that complement each other. Then, can we make sense of feelings? There are two possible definite answers, either 'Yes' or 'No'. Logic can indeed understand and provide the best way out when feelings feel something that is not logical.
Sometimes, not all things we can feel or can think of a way out by logic. In fact, when considered logically it actually makes things worse. Feelings will prioritize inner sympathy and surrender a situation to Allah SWT. That's why sometimes we can't always make sense of our feelings.
Logika adalah pengetahuan tentang aturan berpikir, logika, dan cara berpikir yang masuk akal.
Sedangkan feeling adalah perasaan (rasa) atau keadaan pikiran pada saat menghadapi (feeling) sesuatu.
Sederhananya, logika adalah sesuatu yang masuk akal dan perasaan adalah reaksi hati terhadap suatu situasi.
Tentunya kita sendiri lebih tahu bagaimana situasi menghubungkan logika dengan perasaan.
Pada dasarnya logika mengutamakan hal-hal yang konkrit, seperti cara berpikir, analisis, pengamatan, dan sesuatu yang dapat diterima akal. Kemudian, perasaan pada dasarnya lebih menekankan pada perasaan, pikiran, dan sesuatu yang terjadi pada hati yang sifatnya abstrak.
Padahal keduanya cukup berbeda dalam hal pemahaman, justru itulah hubungan keduanya. Manusia hidup saling melengkapi dan saling toleran, begitu juga dengan logika dan perasaan.
Contoh; Terkadang perasaan benci terhadap seseorang sangatlah berlebihan. Nah disitulah peran logika, dimana harus menjadi penegasan bahwa kebencian tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan membuat perasaan menjadi tenang.
Di sisi lain, ada kalanya logika menjadi lelah, sehingga sulit berpikir jernih. Maka ketika logika menemui jalan buntu, perasaan akan menuntun pikiran dan hati nurani.
Hubungan keduanya lahir dari perbedaan yang saling melengkapi. Lalu, bisakah kita memaknai perasaan? Ada dua kemungkinan jawaban yang pasti, baik 'Ya' atau 'Tidak'. Logika memang bisa memahami dan memberikan jalan keluar terbaik saat perasaan merasakan sesuatu yang tidak logis.
Terkadang, tidak semua hal bisa kita rasakan atau pikirkan jalan keluarnya dengan logika. Padahal, jika ditilik secara logika justru memperburuk keadaan. Perasaan akan mengutamakan simpati batin dan memasrahkan suatu keadaan kepada Allah SWT. Itu sebabnya terkadang kita tidak selalu bisa memahami perasaan kita.
Published by Bambang Tutuko Kuntopati
humoris smart chalenge read politis diplomasi
View all posts by Bambang Tutuko Kuntopati