The honesty taught in fasting will give birth to Ihsan behavior, behavior so that humans sincerely do good deeds only to Allah. As the Prophet SAW was asked by Jibril about the meaning of ihsan? then he replied: "You should worship Allah as if you see Him, even though you cannot see Him, but He still sees you (HR Bukhari).
Presenting the Face of God when Ramadhan passes?
It is common to see when Ramadan is over, individuals no longer recognize the face of their Lord and even stay away from ihsan behavior. Those who are used to corrupt behavior, bribery and other dishonest behavior will return to repeating their habits, not even a trace of the pious wisdom they did during fasting. Supposedly the values of honesty can be implemented in the movement patterns of daily life both during Ramadan and after Ramadan is over.
For this reason, it is necessary to appreciate Ihsan in life which can be achieved by presenting the face of Allah in performing individual and social piety as in the story of the shepherd boy above. Individual piety is carried out by maintaining our worship of Allah, such as prayer, dhikr, and other worship related to Allah. While social piety is reflected in social responsibility towards the poor and orphans which are symbols of weak people (al mustadz'afin) as a consequence of worshiping Allah.
Empathy for the weak is aimed not because of self-image but solely because they want to hope for His pleasure. This is where the relevance of fasting in the month of Ramadan becomes very important, because it is through fasting that humans are taught to be honest both to themselves, to the environment and especially to Allah in every deed. Losing honesty will bring self-leadership that is less trustworthy and tends to be corrupt. A thin spirit of trust will result in a lack of faith and make people easily fall into the abyss of corruption.
Kejujuran yang diajarkan dalam berpuasa akan melahirkan perilaku Ihsan, perilaku agar manusia ikhlas beramal semata kepada Allah. Sebagaiman Nabi SAW pernah ditanya jibril perihal pengertian ihsan? maka jawab Beliau: “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekalipun engkau tidak dapat melihatNya, namun Dia tetap melihatMu (HR Bukhari).
Menghadirkan Wajah Tuhan ketika Ramadhan berlalu?
Sudah jamak dilihat ketika ramadhan usai, maka individu pun tak lagi mengenal wajah Tuhannya bahkan menjauh dari perilaku ihsan. Mereka yang terbiasa berperilaku korupsi, suap dan perilaku tidak jujur lainnya akan kembali mengulang kebiasaanya, tak berbekas sedikitpun hikmah kesalehan yang dilakukannya selama berpuasa. Semestinya nilai-nilai kejujuran dapat diimplementasikan dalam pola gerak keseharian kehidupan baik selama ramadhan dan setelah ramadhan usai.
Untuk itu diperlukan penghayatan Ihsan dalam kehidupan yang bisa dicapai dengan menghadirkan wajah Allah dalam melakukan kesalehan individu maupun kesalehan sosial seperti dalam cerita anak gembala di atas. Kesalehan individu dilakukan dengan memelihara ibadah kita kepada Allah, seperti shalat, dzikir, dan ibadah lain yang berhubungan dengan Allah. Sementara kesalehan sosial tercermin dari tanggungjawab sosial terhadap fakir miskin dan anak yatim piatu yang merupakan simbol orang-orang lemah (al mustadz’afin) sebagai konsekuensi dari peribadatan kepada Allah.
Empati kepada kaum lemah ditujukan bukan karena pencitraan diri tapi semata-mata karena ingin mengharap RidhaNya. Disinilah relevansi ibadah puasa dalam Bulan Ramadhan menjadi sangat penting, karena lewat puasalah manusia diajarkan untuk jujur baik kepada diri sendiri, lingkungan dan terutama kepada Allah dalam setiap amalnya. Kehilangan kejujuran akan mendatangkan kepemimpinan diri yang kurang amanah dan cenderung korup. Tipisnya jiwa amanah akan mengakibatkan tipisnya iman dan membuat orang mudah terjermbab dalam jurang korupsi.
Published by Bambang Tutuko Kuntopati
humoris smart chalenge read politis diplomasi
View all posts by Bambang Tutuko Kuntopati