Resigned/Lengser keprabon madeg pandito”, Presiden Suharto (Indonesia)
At that time, October 20, 1997, before Golkar officials, Suharto stated that he wanted to resign.
"I will position myself as in the philosophy of wayang, namely resigned keprabon madeg pandito", Suharto said at the time.
Quoted from the Berkarya site which is managed by Malang State University (UNM), the meaning of "resigned keprabon madep pandito ratu" is a Javanese expression which means that every leader or ruler—who has ended his reign—is expected to worship a lot to draw closer to Allah/God who Almighty—to repent.
In the Wayang Purwa/Javanese wayang version of the Mahabarata story, one such play/behavior/behavior is exemplified by Begawan Abiyoso, the grandfather of Pendawa and Kurawa.
After completing the task and handing over the throne of the Kingdom of Hastinapura to Raden Pandu Dewanata, his 2nd son, he left the palace and lived in a hermitage.
Saat itu, 20 Oktober 1997, di hadapan pengurus Golkar, Soeharto menyatakan bahwa ia ingin mundur.
"Saya akan menempatkan diri sebagaimana dalam falsafah pewayangan yaitu lengser keprabon madeg pandito", ujar Soeharto kala itu.
Dikutip dari situs Berkarya yang dikelola oleh Universitas Negeri Malang (UNM), makna "lengser keprabon madep pandito ratu" adalah suatu ungkapan bahasa Jawa yang memiliki arti bahwa setiap pemimpin atau penguasa—yang sudah mengakhiri masa kekuasaannya—diharapkan banyak beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa—untuk bertobat.
Dalam kisah Mahabarata versi Wayang Purwa/Wayang Jawa, lelakon/lelaku/perilaku semacam itu, salah satunya dicontohkan oleh Begawan Abiyoso kakek Pendawa dan Kurawa.
Setelah menyelesaikan tugas dan menyerahkan tahta Kerajaan Hastina Pura kepada Raden Pandu Dewanata, putra ke-2 nya, beliau meninggalkan istana dan bermukim di pertapaan.