For what Attend / Untuk apa Hadir

What's the point of being invited, if in the end. I came only to be suspected and insulted. What is your real intention to open the door of your house, if you end up treating guests only sweetly on the lips? At first it was sweet in front, but it turned out to be bitter later. The guest will not be a member of the family if not invited. A guest is a gift if it is respected but if it is stepped on it will be a disaster for the host. Because what God's servant is facing is not an animal that can be treated like your brain. Be careful when you want to treat guests. As bad as humans are, there must be benefits and goodness. Not necessarily a bad guest in your eyes, the fact is as bad as your assessment. How can you judge people badly while your attitude and manners are still covered in the filth of your impolite actions. What about the facts of your worship behavior, because in your opinion good worship is only figurative words. If people are shameless, it will be reflected in the assessment of their environment. The language will be good and radiant if the perpetrator is honest and not smart as an actor to sweeten poetry. Do not disgrace the rest of your life to your guests and neighbors. Because, the one you insult will one day become a big and high-ranking person. Maybe he can help you when you are stuck in your stomach and heart. It's not difficult to be a good person if you have good intentions, even if it's only as big as a mustard seed. Don't be like a donkey always repeating mistakes. Let us be ants but we are in the head than you wish to be an elephant but your role is only as a tail.

Buat apa diundang, kalau pada akhirnya. Saya datang hanya untuk dicurigai dan dihina. Apa sebenarnya niat kalian membuka pintu rumahmu, bila akhirnya memperlakukan tamu hanya manis dibibir saja. Awalnya berbahasa manis didepan, tapi ternyata memberi pahit kemudian. Tamu itu tidak akan masuk menjadi anggota keluarga bila tidak diundang. Tamu itu anugerah bila dihormati tapi bila di injak maka akan jadi bencana bagi tuan rumah. Karena yang dihadapi ini hamba Allah bukan binatang yang bisa seenak diperlakukan seenak otakmu. Hati-hati bila ingin memperlakukan tamu. Seburuk buruknya manusia pasti ada manfaat dan kebaikannya. Belum tentu tamu yang buruk dimata kamu faktanya seburuk penilaian kamu. Bagaimana bisa menilai buruk orang sementara sikap dan adabmu masih blepotan dengan kotoran ulah-ulahmu yang tidak sopan. Bagaimana juga dengan fakta prilaku ibadahmu, karena ibadah baik menurutmu hanya sebatas kata-kata kiasan saja. Bila orang tidak tahu malu, maka akan tercermin dari penilaian lingkungan hidupnya. Bahasa itu akan baik dan berseri bila pelakunya jujur bukan pandai sebagai aktor pemanis puisi. Jangan melakukan aib di sisa umurmu kepada tamu dan tetanggamu. Karena, yang kamu hina suatu saat akan menjadi orang yang besar dan tinggi derajatnya. Mungkin dia bisa menolong kamu saat kamu terjepit lambung dan jantungmu. Tidak sulit menjadi orang baik bila ada niat baik, walau hanya sebesar biji sawi. Jangan seperti keledai selalu mengulangi kesalahan. Biarkan kita menjadi semut tapi kita dikepala daripada kamu berharap menjadi gajah tapi peran kamu hanya sebagai ekor.

Leave a Comment