For example, a CEO who is very critical and analytical in order to run the company efficiently. But on the other hand, this CEO can lose moral values and become the king of the heart if trapped in an analytical way of thinking. people who are critical and analytical usually do not have the nature of empathy or commonly called the king of the heart. The reason is that the area of the brain that functions to process empathy becomes inactive when the part of the brain that functions to analyze becomes active and vice versa. This means that people who are busy analyzing may lack empathy. when the brain's analytical network is active, our ability to appreciate human feelings is suppressed. But at rest, the brain is in an intermediate stage. Our cognitive structures have evolved. Empathy and analytical thinking lie mutually exclusive / a predominant sense of ego that exists in the brain, at least to a certain extent.
Contoh, seorang CEO yang sangat kritis dan analitis agar dapat menjalankan perusahaan dengan efisien. Namun di sisi lain, CEO ini bisa kehilangan nilai moral dan menjadi Raja tega jika terjebak dalam cara berpikir analitis. orang yang kritis dan analitis biasanya tidak memiliki sifat empati atau biasa disebut raja tega. Penyebabnya, area otak yang berfungsi memproses empati jadi tak aktif saat bagian otak yang berfungsi untuk menganalisis menjadi aktif dan sebaliknya. Artinya orang yang sibuk menganalisis mungkin kurang dapat berempati. ketika jaringan analitik otak aktif, kemampuan kita untuk menghargai perasaan manusia ditekan. Namun saat beristirahat, otak berada dalam tahap di antara keduanya. Struktur kognitif kita sudah berevolusi. Empati dan pemikiran analitis terletak saling eksklusif / rasa ego menonjol yang ada di otak, setidaknya sampai batas tertentu.